Jumat, 24 Maret 2017

Teori Interaksionisme simbolik



Pengantar Teori Interaksionisme Simbolik ( Interactionisme Symbolic )
Teori Interaksionisme simbolik sebenarnya tidak lepas dari tokoh George Herbert Mead. Mead berfikir bahwa pemikiran seseorang, konsep kita, dan masyarakat luas dimana kita tinggal telah membentuk sebuah komunikasi. Menurutnya, tanpa adanya interaksi simbolik  kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam masyarkat.
Interaksi simbolik tidak hanya apa yang kita bicarakan, tetapi lebih menekankan pada bahasa dan gerak tubuh seseorang dalam meresponnya. Generasi setelah Mead merupakan awal perkembangan interaksi simbolik, yang mana ketika itu dasar pemikiran Mead terpecah menjadi dua mazhab yang berbeda dalam hal metodologi.  Kedua mazhab itu ialah Mazhab Chicago yang dipelopori oleh Blumer dan Iowa yang dipelopori oleh Manfred Kuhn bersama dengan Kimball Young. George Herbert Mead menghabiskan sebagian besar waktunya dengan mengajar di Universitas Chicago. Bukunya yang berjudul “Mind, Self, and Society” merupakan kumpulan bahan kuliah yang ia berikan di Universitas Chicago.

Teori Interaksionisme Simbolik
Teori Interaksi Simbolik merupakan teori yang memiliki asumsi bahwa manusia membentuk makna melalui proses komunikasi. Teori interaksi simbolik berfokus pada pentingnya konsep diri dan persepsi yang dimiliki iindividu berdasarkan interaksi dengan individu lain. Blumer menyebutkan terdapat tiga prinsip dari teori simbolik interaksionisme, yaitu meaning, language, dan thinking. Prinsip tersebut merujuk pada kesimpulan tentang kreasi dari seseorang, sosial, dan masyarakat luas.
Prinsip pertama adalah, meaning. Tujuan utama dari prinsip meaning adalah membangun realitas sosial. Menurut Blumer beralasan bahwa manusia bertindak terhadap orang atau hal-hal atas dasar makna atas apa yang orang lain lakukan. Berkaca dari pendapat Mead, Nell menyebutkan bahwa untuk mendapatkan salah satu yang dicetuskan para ilmuwan adalah pemikiran tentang stimulus-respon. Tetapi, setelah mendapatkan perubahan ditetapkan bahwa diagram dari sebuah interaksi adalah adanya stimulus-interpretation-response.
               Prinsip kedua dari Blumer adalah Language atau bahasa. Maksud dari prinsip ini adalah bahwa bahasa dapat dijadikan sebagai sumber dari suatu makna. Dengan kata lain, makna tidak melekat pada suatu benda, suatu makna dapat di istilahkan dengan bahasa maka dapat diistilahkan sebagai interaksi simbolik. Sebagai manusia, kita memiliki kemampuan untuk menyebutkan sesuatu hal. Kita dapat menunjuk suatu objek , mengidentifikasi tindakan, atau merujuk pada suatu ide yang abstrak. Mead percaya bahwa penyebutan simbol adalah dasar untuk masyarakat luas. Ahli beranggapan bahwa dengan memperluan pengetahuan adalah dengan bergantung pada keberagaman suatu kata. Meskipun bahasa dapat menjadikan sebuah batasan bagi kita, tetapi kita dapat melewati batasan tersebut dengan kemampuan yang kita miliki  dan dapat mengetahui berbagai kata. 
               Prinsip ketiga adalah Thinking, maksudnya adalah interpretasi seseorang tentang simbol adalah hasil percampuran dari proses pemikiran mereka sendiri. Ahli berpendapat bahwa interaksi simbolik menggambarkan pemikiran sebagai percakapan dengan diri sendiri. Mead menyebutnya dengan minding. Minding adalah komunikasi dengan diri sendiri sebagai cara mudah, berlatih bersikap, dan mencegah reaksi sebelum menanggapi. Keikutsertaan Mead yang paling terbesar adalah tentang pemahaman kita terhadap cara berpikir kita sendiri tentang gagasannya bahwa seseorang  memiliki kemampuan “ To take the role of the other”, maksudnya adalah proses jiwa kita untuk membayangkan kamu adalah orang lain yang melihat dirimu sendiri. Mead yakin bahwa pemikiran adalah sebuah perkataan jiwa yang diakui oleh masyarakat , dan masyarakat akan melihat kita,, dan beraksi untuk merespon apa yang telah kita lakukan
 
 
 
 
Catatan Kritis
            “Melihat teori yang dapat diuji dan dijelaskan secara langsung dan tidak langsung yang diteliti menggunakan penelitian sosial , gagasan Mead adalah sebuah gagasan yang cacat”, pendapat itu adalah penilaian dari Sheldon Stryker dan saya menyetujuinya. Interaksionisme simbolik dikritik karena karena meremehkan atau mengabaikan  peran struktur berkala luas. Ketidakjelasan konsep-konsep esensial Meadian seperti : pikiran, diri, I, dan Me.  Konsep dasar teori interaksionisme simbolik yang dinilai keliru, tidak tepat. Karena-konsep itu tak tepat, maka sulit mengoperasionalisasikannya, akibatnya adalah tak dapat dihasilkan proposi-proposisi yang dapat diuji.

Penerapan
            Jika berbicara tentang penerapan atau aplikasi teori interaksionisme simbolik dapat masuk ke interaksi interpersonal, karena terjadi antara dua individu. Karena dalam interaksi interpersonal terdapat suatu interaksi yang memungkinkan terjadinya interaksi menggunakan simbol-simbol. Simbol tersebut bisa menggunakan bahasa, dan gestur atau gerak tubuh. Di dalam interaksi tersebut seseorang yang menerima simbol dari lawan bicara harus mengartikan dan memaknai apa maksud simbol tersebut agar kita dapat mengerti dan tidak terjadi Missed Communication. Selain itu, teori interaksi simbolik juga diterapakn pada komunikasi kelompok, publik, dan massa.

Contoh Kasus
            Dalam teori ini pada intinya menginterpretasi simbol yang kita terima, baik simbol verbal dan nonverbal. Salah satu simbol verbal adalah menggunakan bahasa dalam suatu interaksi. Bahasa adalah sumber dari makna. Salah satu cotoh populer saat ini adalah tentang pidato Ahok di kepulauan seribu. Dalam isi pidato tersebut Ahok berbicara tentang pemakaian surat al-maidah ayat 51 oleh oknum politisi. Ahok mempunyai niatan bahwa, surat Al-Maidah 51 sering dipakai sebagai alat kebohongan oknum politisi. Tetapi ditanggapai lain oleh bebarapa pihak seperti FPI ( Front Pembela Islam ). FPI beranggapan bahwa Ahok telah menistakan agama islam, karena telah membawa surat Al-Maidah 51 yang pada intinya terdapat dalam kitab suci Al-Quran untuk kegiatan politik Ahok. Maka dari sinilah kita harus berhati-hati dalam menggunakan bahasa. Karena pemakaian bahasa akan memengaruhi kita sendiri.

Senin, 06 Maret 2017

TEORI KOMUNIKASI

1. Apa yang dimaksud dengat teori ?
 
Teori, adalah sebuah perangkat yang membantu seseorang untuk melihat proses-proses dan pengalaman-pengalaman sehari-hari. Teori juga sering mengurangi pengalaman menjadi sebuah katagori dan sebagai hasilnya akan meninggalkan sesuatu. Dapat disimpulkan bahwa teori merupakan sebuah sistem konsep dan hubungan-hubungan konsep yang membantu kita untuk memahami sebuah fenomena. Dengan kata lain, teori adalah sebuah ide mengenai bagaimana sesuatu terjadi.  

2. Mengapa perlu belajar teori ?

Teori sangatlah perlu untuk dipelajari karena teori dapat membantu kita dalam memahami, menjelaskan, mengartikan, menilai, dan menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan bidang tertentu. Teori berfungsi untuk memperjelas masalah yang diteliti, dan sebagai referensi untuk menyusun bahan penelitian. Semua peneliti harus berbekal teori agar wawasannya menjadi lebih luas dan dapat menyusun penelitian yang baik. Pentingnya teori adalah sebagai kerangka kerja penelitian,terutama untuk mencegah praktek-praktek pengumpulan data yang tidak memberikan sumbangan atau dampak bagi pemahaman peristiwa.

 3.  Mengapa perlu belajar teori komunikasi ?
 
Mempelajari teori komunikasi akan membantu untuk melihat hal-hal yang belum pernah dilihat sebelumnya, melihat hal-hal yang tidak terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Pelebaran presepsi ini akan memungkinkan untuk keluar dari cara berpikir yang biasa serta dapat menyesuaikan diri, fleksibel, dan canggih terhadap pendekatan komunikasi. Sehingga teori komunikasi memberikan seperangkat alat bantu yang berguna untuk melihat proses dan pengalaman melalui cara pandang yang baru.
Belajar teori bukan hanya sekedar membaca tapi dengan belajar teori kita dapat mengetahui sesuatu hal yang belum pernah kita lihat dan ketahui sebelumnya.Seperti yang telah disebutkan oleh W. Littlejohn, dalam bukunya Theories of Human Communication, Wadsworth (2005:2)
“studying communication theory will help you see things you never saw before.One writer put it this way.”The paradigma observer is not the man who sees and reports what all normal observers see and report,but the man who sees in familiar objects what no one else has seen before.”
“Dengan mempelajari teori komunikasi akan membantu melihat segala sesuatu yang tidak kita lihat/sadari sebelumnya”dengan pernyataan yang berbeda.”Pengamat yang mendasarkan diri pada suatu paradigma tertentu bukanlah orang yang melihat dan memberitahu seperti apa yang orang awam lihat dan laporkan,melainkan dia akan melihat sesuatu pada hal-hal yang lumrah yang tidak bisa dilihat orang sebelumnya.”

Melihat analogi dari Thomas Kuhn (Littlejohn,2005:3):
“Looking at a contour map,the student sees lines on paper,the cartographer a picture of a terrain.looking at a bubblechamber photograph,the student sees confused and broken lines,the physycist a record of familiar subnuclear events.”

“Jika melihat sebuah peta kartografi maka seorang siswa hanya akan melihat garis-garis biasa,seorang ahli peta akan menggambarkan sebuah tanah lapang.Melihat pada foto ruangan gelembung,seorang siswa hanya melihat gari-garis yang membingungkan,seprang ahli fisika mencatat kejadian-kejadian subnuklir.” Artinya, seseorang hanya bisa melihat sebuah fenomena dengan sudut yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa kalau dia mempunyai bekal teori untuk membedah fenomena tersebut.

Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa dengan mempelajari teori komunikasi kita akan mendapatkan bekal agar dapat mengetahui segala sesuatu dengan cara baru dengan pandangan yang menarik dan bisa mendapatkan manfaat dari sesuatu tersebut. Teori-teori berfungsi sebagai alat bantu yang berguna untuk melihat proses dan pengalaman sehari-hari.Kita memerlukan teori komunikasi untuk mengetahui makna-makna tersembunyi dalam peristiwa komunikasi,seperti  pesan-pesan non-verbal,simbol-simbol,dsb. Dengan belajar teori komunikasi dapat membantu kita untuk menyusun pesan atau menyampaikan sesuatu dengan baik.


4. Sejak kapan para ahli tertarik mengkaji komunikasi sehingga menjadi disiplin ilmu / studi akademik ? 
Dalam buku Littlejohn, Theories of Human Communiation, Littlejohn menuliskan bahwa Komunikasi telah menjadi topik sangat penting pada abad ke-20. Ini karena munculnya teknologi komunikasi, seperti radio, televisi, telepon, satelit, dan jaringan komputer. Kajian mengenai komunikasi mulai intensif dilakukan setelah Perang Dunia I, yang didorong oleh kemajuan teknologi. Hal ini ikut memengaruhi kajian mengenai komunikasi. Kondisi politik mendorong para ahli untuk mengkaji propaganda dan pembentukan opini publik. Padamasa itu mulailah para peneliti tertarik meneliti sikap dan opini dan mencoba mengetahui bagaimana cara memengaruhi opini publik melalui media massa. Pada periode yang sama, ilmu-ilmu sosial dan psikologi juga sedang mengalami perubahan yang sangat pesat pada waktu itu. Kebanyakan riset dari ilmu sosiologi pada 1930-an lebih fokus pada bagaimana  pengaruh komunikasi terhadap masyarakat dan individu. Riset-riset psikologi yang berkembang pada fenomena-fenomena komunikasi, seperti pengaruh film pada anak-anak, propaganda dan persuasi, serta dinamika kelompok.
Tidak hanya itu komunikasi juga pada akhirnya berkaitan dengan dunia pendidikan.Banyak studi komunikasi yang lebih khusus mempelajari bagaimana pemanfaatan media masa  dalam pengajaran seperti diskusi kelompok ,serta bagaimana pengaruh penggunaan berbagai media komunikasi yang dipakai di dalam kelas.Selain itu pada paruh pertama abad ke-20 komunikasi berkembang karena adanya rasa keingintahuan para pebisnis untuk mengetahui bagaimana cara pemasaran dan periklanan dengan memanfaatkan media komunikasi.Studi-studi mengenai komunikasi lebih banyak digunakan pada kepentingan yang bersifat komersial.
Setelah Perang Dunia II,ilmu pengetahuan sosial semakin dikenal,serta minat terhadap kajian psikologi dan sosial semakin kuat. Pengambilan keputusan dalam kelompok menjadi hal yang penting bukan hanya diantara kalangan peneliti tetapi pada masyarakat umum karena penggunaan propaganda yang luas selama masa perang untuk menyebarkan ideologi rezim-rezim yang menindas. Oleh karena itu,semenjak Perang Dunia ke II studi komunikasi menjadi sangat penting.

  5. Pendekatan dalam studi komunikasi berkembang secara berbeda-beda menurut paradigma dan tempat atau negara di mana para ahli itu berkarya.Coba anda deskripsikan perbedaan studi komunikasi di Amerika Serikat dan di Eropa?
 
Perkembangan ilmu komunikasi terjadi diberbagai belahan dunia dan memiliki perbedaan dan prespektif tersendiri dalam perkembangannya. Perbedaan itu pula terjadi di Amerika Serikat dan di Eropa. Di Amerika Serikat, studi ilmu Komunikasi menetikberatkan penelitian secara kuantitatif dengan tujuan menghasilkan penelitian yang objektif.Meskipun hal ini tidak pernah benar-benar menyetujui sasaran sempurna yang dilakukan oleh para peneliti,namun metode kuantitatif merupakan metode yang sudah digunakan selama bertahun-tahun.Berbeda dengan di Eropa, studi penelitian komunikasi lebih ditekankan pada sejarah, budaya, dan kajian kritis yang berlandaskan pada pemikiran Marxisme serta cenderung menggunakan Teori-teori kritis.(Littlejohn,2005:4).


  1. Perbedaan karakteristik juga terjadi antara ilmu komunikasi yang berkembang di negara-negara Barat dengan ilmu komunikasi di negara-negara Timur.Coba deskripsikan perbedaan tersebut
Negara-negara Timur, dan negara-negara Barat memiliki perbedaan karakteristik dalam berkomunikasi. Karakteristik komunikasi di negara-negara timur adalah cenderung berfokus pada keutuhan dan persatuan, cenderung memandang komunikasi sebagai hasil rangkaian kejadian yang tidak direncanakan dan terjadi secara alami, lebih menekankan pemusatan emosional dan spiritual sebagai hasil dari komunikasi, simbol verbal tidak diutamakan bahkan dianggap skeptis, tidak mempercayai rasio dan logika, dan hubungan lebih rumit dan kontektual, dan berkembang menurut peranan sosial, status, dan kekuasaan.
Sedangkan pandangan komunikasi di negara-negara barat adalah terkadang mengukur bagian-bagian tanpa memperhatikan integrasi dasar atau penggabungan bagian tersebut, didominasi oleh pandangan individualisme, semua orang dianggap berhati-hati dan aktif untuk mencapai tujuan pribadi,menyebabkan kecenderungan orang Asia bersifat individualistik dan sangat kognitif, lebih menghargai rasio dan logika, dan hubungan ada antara dua atau lebih individu.

7.  Jelaskan proses yang dilakukan oleh para ahli di dalam membentuk atau mengembangkan teori komunikasi ?

Sebuah titik awal untuk memahami komunikasi sebagai sebuah bidang dan teori-teorinya, merupakan proses dasar dalam penelitian itu sendiri. Proses penelitian sistematis melalui tiga tahapan. Pertama, adalah mengajukan pertanyaan. Menurut Gerald Miller, dan Henry Nicholson berpendapat ( Littlejohn,2005:3 )

“Nothing More....than, the process of asking interesting, significant questions...and providing disciplined, systematic answers to them”.

“ Tidak lebih...daripada proses mengajukan pertanyaan-pertnyaan signifikan menarik....dan memberikan jawaban-jawaban yang sistematik dan rapi bagi mereka”.

Tahapan kedua dalam penelitian adalah pengalaman. Para akademisi mencari jawaban dengan mengamati fenomena. Metode pengamatan saling berbeda dari satu tradisi ke tradisi lain. Beberapa akademisi mengamatinya dengan memeriksa catatan dan artefak, yang lainnya dengan keterlibatan pribadi yang menggunakan alat bantu dan percobaan yang teratur.
Tahapan ketiga adalah menyusun jawaban. Pada tahap ini, para ahli mencoba untuk mendefinisikan, menggambarkan, dan menjelaskan untuk mengetahui penilaian dan interpretasi tentang apa yang diamati. Untuk membentuk jawaban dengan membentuk hipotesis. Pada tahap ketiga inilah pembuatan teori dilakukan.


8.  Apa yang dimaksud dengan “ Levels of communication”?

“Levels of Communication” merupakan tingkatan yang ada di dalam proses komunikasi. Tingkatan tersebut antara lain sebagai berikut:
.                 a. Komunikasi Interpersonal, yaitu suatu proses komunikasi yang terjadi diantara orang perorang (minimal 2 orang) yang bersifat pribadi dan biasanya bertatap muka.
b. Komunikasi Kelompok, yaitu suatu proses komunikasi yang terjadi diantara orang – orang yang ada di dalam suatu kelompok tertentu untuk mencapai sebuah keputusan.
c. Komunikasi publik, yaitu secara tradisional berfokus pada presentasi publik dari wacana. Komunikasi publik juga sering dipahami sebagai berbicara di depan orang banyak (public speaking) yang membutuhkan keterampilan komunikasi khusus (special communication skills), seperti gestur, suara, dan bahan media yang harus digunakan untuk mengkomunikasikan pesan secara efektif
                  d. Komunikasi Organisasi, yaitu suatu proses komunikasi yang terjadi diantara oraang – orang yang ada di dalam organisasi itu sendiri dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
e. Komunikasi Massa, yaitu suatu proses komunikasi yang menggunakan media untuk menyampaikan pesan secara luas pada khalayak yang luas.

  1. Jelaskan perbedaan karakteristik /ciri-ciri ilmu pengetahuan ilmiah (scientific scholarship ),ilmu pengetahuan humanis (humanistic scholarship) dan ilmu pengetahuan sosial (sosial-science scholarship)?
Ilmu Pengetahuan Ilmiah yaitu melihat segala sesuatu secara obyektif, dan biasanya melalui observasi/ pengamatan secara mendalam. Standarisasi dan replikasi adalah hal yang penting disini, karena asumsi dari para ilmuwan  adalah dunia merupakan hal yang bisa diobservasi dan gambaran tugas mereka adalah mengamati serta menjelaskan dunia seakurat mungkin karena dunia menunggu penemuan dan tujuan ilmu pengetahuan.
Ilmu Pengetahuan humanis, yaitu mengizinkan melihat segala sesuatu dengan subyektivitas. Humanistik juga menekankan pada keunikan individu yang diobservasi/diamati. Karena itu, pengetahuan humanistik seringkali terkait dengan kasus-kasus yang bersifat individual ketimbang yang bersifat umum.Ilmu pengetahuan humanis lebih sesuai untuk masalah-masalah seni,pengalaman pribadi,dan nilai-nilai.
Ilmu Pengetahuan ilmiah Sosial ,dalam mengamati dan mengartikan pola-pola perilaku manusia,para akademisi ilmu pengetahuan sosial menjadikan manusia sebagai objek penelitian karena yang menjadi objek studi dalam ilmu sosial adalah kehidupan manusia yang unik .Komunikasi melibatkan pemahaman bagaimana perilaku orang ketika membuat, menukar, dan menginterpretasikan pesan. Maka dalam ilmu pengetahuan ilmiah sosial, penelitian komunikasi mengombinasikan metode sains dan humanistik

10.  Beri kesan singkat mengenai apa yang sudah anda pelajari dalam chapter 1 buku ini.Coba anda cari dan bandingkan 1 buku lain yang membahas tema yang sama dengan chapter 1 buku ini,kemudian catat beberapa perbedaan atau kekhasan yang anda tangkap dari kedua buku tersebut!

Saya membaca buku Theories of Human Communiation, karya littlejohn dan buku A First Look At Communication Theory karya EM.Griffin. Buku karya Littlejohn yang membahas tentang Teori komunikasi khususnya pada Bab pertama mengenai Communication Theory and scholarship,memberikan pengetahuan baru mengenai apa itu teori,proses pembuatan teori yang melewati beberapa tahap,serta sejarah teori komunikasi yang setiap negara ternyata memiliki karakteristik atau perbedaan. Begitu pula buku karya Em Griffin tentang A First Look At communication Theory khususnya pada Bab 1 yang juga membahas seputar teori.Namun dari kedua buku ini,buku Littlejohn lebih lengkap dalam pembahasan mengenai teori sampai sejarahnya pun ada,sedangkan buku Em Griffin tidak sampai sejauh itu,hanya menjelaskan pengertian teori,serta komunikasi tanpa berbicara mengenai sejarahnya.
Namun kedua buku ini telah memberikan pemahaman baru kepada saya bahwa banyak sekali manfaat belajar teori komunikasi ,yang bagi masyarakat biasa komunikasi adalah hal yang biasa dilakukan tapi ternyata jika dikupas lebih jauh lagi ilmu komunikasi merupakan hal terpenting dalam kehidupan ini.Dengan mempelajari teori komunikasi kita dapat mengetahui hal-hal yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Komunikasi yang merupakan kegiatan sehari-hari,dan setiap aspek kehidupan kita dipengaruhi oleh komunikasi kita dengan orang lain ternyata perlu dipelajari dan dipahami dengan segala kerumitannya.


Selasa, 10 Januari 2017

artikel teori komunikasi



TEORI KOMUNIKASI
By : Ibrahim Bramantia Putra
Description: D:\ibam\C360_2016-02-05-14-06-30-975-1.jpg
ILMU KOMUNIKASI-FISIP-UNSOED

Berbicaratentangkomunikasi, komunikasimerupakansuatuhal yang amatpentingdalamsuatuhubungan.Hubunganakanberjalanlancarbilakomunikasiantarsesamaberjalandenganbaik. Jikapadawaktulalukitasudahpernahmembahastentangpengertiankomunikasi, tidakjauhberbeda, disinikitaakanmembahastentangteorikomunkasidanmacam-macamnya. Simakulasannyaberikutini.
Sudahkitaketahui, bahwakomunikasiamatlahpenting.Jikakomunikasiterganggumakainformasiataupesan yang sampaiakanbermasalah. Agar kitabisamenyerapataumenyaringdenganbaikapa yang disampaikanolehseseorang, kitaharusmenerapkan yang namanyateorikomunikasi. Teorikomunikasiadalahkomunikator, media, pesan, pemirsadanumpanbalik, dimanakomponentersebutharussalingmelengkapi agar parakomunikandapatmenyerapapa yang disampaikanolehkomunikator. Ada beberapaahli yang menerangkanapaituteorikomunikasi.
PengertianTeoriKomunikasiMenurut Para Ahli

Borman – Teorikomunikasiadalahsatuperkataan / istilah yang merupakan paying untuksemuaperbincangandananalisis yang dibuatsecaraberhati-hati, sistematikdansadar, tentangkomunikasi.



Little John – Teorikomunikasiadalahsatuteoriatausekumpulan “pemikirankolektif” yang didapatidalamkeseluruhanteoriterutamanya yang berkaitan proses komunikasi.

Cragandan Shields – Teorikomunikasimerupakanhubungan di antarakonsepteoretikal yang membantumemberi, secarakeseluruhanataupunsebabagiannya, keterangan, penjelasan, penerangan, penilaianataupunramalantindakanmanusiaberdasarkankomunikator (orang) berkomunikasi (bercakap, menulis, membaca, mendengar, menonton, dansebagainya) untukjangkamasatertentumelalui media.

TeoriBehaviorisme – Salah satuilmuwankomunikasi yang mensupporttoeribehaviorismeadalah Jhon B. Watson (1878-1958), seorangilmuwan di AmerikainidisebutsebagaiBpk. behaveorisme, disebutkanbahwadariteoriinisemuaperilaku, termasuktindakbalasanatau yang dikenaldenganresponitusemuadisebabkandariadanya stimulus (rangsangan), pernyataantsbkitabisamenyimpulkanbahwakalausuaturangsangantelahdiamati&diketahuimakarespondariseseorangtsbakanmudahdanbisadiprediksikan, darisetiapperilakudapatkitapelajarimelaluihubunganrangsangandanjugarespon.

TeoriInformasi – Teoriinformasiinimerupakansebagiandariteorikomunikasi yang klasik, teoriinimerupakanbentukpenjabarandarikarya Claude Shannon dan Warren Weaver (1949, Weaver. 1949), padateoriinidisebutkanbahwakomunikasisebagaitransmisipesan&bagaimana transmitter menggunakansalurandan media dalamberkomunikasi, di dalamteorikomunikasiinformasiinimenitikberatkanpadasaluranatau media yang digunakanoleh transmitter jikasinyaldalam media initidakbaikmaka proses komunikasitersebutakantidaklancarbegitusebaliknya.

Teori Agenda Setting – Teori Teori Agenda Setting hampirsamadenganteoriinformasikarenadalamteoriinisama-samabergantungpada media, teoriinidikenalkanoleh Mc Combs dan DL Shaw (1972). Toeriinimempunyaiargumenbahwa media sangatmemberitekanankepadasuatukejadian, darikejadianitu media mengangkatperistiwatsbdanmempengaruhimasyarakatuntukmenganggapperistiwatersebutpenting.Dapatdisimpulkanjikahalapa yang dianggappentingoleh media, makapentingjugabagimasyaakat.

Teori Uses and Gratifications (kegunaandankepuasan) – Teoriinidikemukakanoleh Herbert BlumerdanElihu Katz (1974).Padateoriinihal yang di utamakanialahpengguna media, pengguna media mempunyaiperan yang aktifdalamteoriini, untukmemilihdanmenggunakan media tersebut.

TeoriDependensiEfekKomunikasi Massa – Teoridependensiefekkomunikasidikembangkanoleh Sandra Ball-Rokeachdan Melvin L. DeFluer (1976), teoriinilebihmenfokuskankepadakondisistrukturalpadasuatumasyarakat, daristrukturalmasyarakatinikecenduranganakanterjadisuatuefek media massa. Teoriinibisadiakusisiolehparakomunitasmasyarakat modern danbagaimanamasyarakat modern mempunyaianggapanbahwa media massamerupakanpusatinformasi yang mempunyaiandilpentingdalam proses memelihara, perubahan, dankonflikdalamtataranmasyarakatdanmasalahperorangandalamsuatuaktivasisocial

makalah antropologi Kesenian Ebeg Banyumasan



Lutfianti Bening Safira            (F1C016013)
Rani Nuraeni Khairunnisa       (F1C016014)
Ibrahim Bramantia Putra                  (F1C016015)

“Perkembangan Ebeg Banyumasan Dikalangan
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed 2016”

A.   Latar Belakang Masalah
Kesenian adalah salah satu bagian dari kebudayaan dan merupakan hasil budi daya manusia. Bentuk kesenian yang ada di Indonesia adalah seni musik, seni lukis, seni drama, seni sastra dan seni tari. Perwujudan seni yang ada di masyarakat merupakan cermin dari kepribadian hidup masyarakat. Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa dapat dilihat dari kebudayaan atau kesenian yang dimilikinya, oleh sebab itu kesenian sebagai salah satu bagian dari kebudayaan perlu  dilestarikan dan dikembangkan.
Banyumas sebagai salah satu bagian wilayah propinsi Jawa Tengah, memiliki berbagai macam budaya, adat istiadat, dialek, makanan tradisional dan kesenian yang menarik, hal tersebut dikarenakan letak geografis Banyumas yang berada pada perbatasan dua etnis yang berbeda yaitu masyarakat Jawa Barat dengan etnik Sunda. Kesenian khas Banyumas tersebar di seluruh daerah-daerah sekitar Banyumas seperti di Purwokerto, Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga, Gombong, Wonosobo, Kebumen, Purworejo, Kulon progo, dan Magelang. Kesenian-kesenian tersebut pada umumnya merupakan seni pertunjukan rakyat yang memiliki fungsi- fungsi tertentu berkaitan dengan kehidupan masyarakat pemiliknya. Kesenian yang berasal dari di daerah Banyumas antara lain,  Aplang, Buncis, Sintren, Angguk, Ebeg atau  Jathilan, Dhames, Baritan, Ujungan, Gamelan Calung, Wayang kulit, Jemblung, Begalan, Aksi muda, Rodat, Dhaeng, Sintren, Ronggeng, Ketoprak, Dagelan, dan Lengger Calung.
Ebeg merupakan salah satu kesenian yang banyak berkembang di daerah Jawa Tengah, khususnya bagian selatan hingga barat seperti Banyumas, Purbalingga, Cilacap, dan Kebumen. Ebeg merupakan jenis tarian yang bercerita mengenai kegiatan latihan perang para prajurit berkuda pada jaman dahulu dan memiliki ciri khas yaitu menggunakan kuda kepang sebagai alat tariannya. Dalam satu grup ebeg, biasanya terdiri dari 5 hingga 8 orang pemain dan diiringi oleh gamelan lengkap dengan perangkat-perangkatnya yang lazim disebut bendhe. Menurut beberapa sumber, tarian ebeg ini sudah mulai berkembang sejak zaman Pangeran Diponegoro. Tarian ini berupa dukungan rakyat jelata terhadap Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda. Tarian ini biasanya terdiri dari empat fragmen, yaitu dua kali tarian buto lawas, tarian senterewe, dan tarian begon putri. Tarian ini tidak memerlukan koreografi khusus, tetapi penarinya harus bergerak kompak. Sang penari dapat bergerak bebas mengikuti alunan musik gamelan.Walaupun seringkali dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat magis dan ekstrem, namun pada intinya tarian ini memberi pesan yang sangat baik yaitu biasanya berisikan imbauan kepada manusia agar senantiasa melakukan kebaikan dan ingat dengan Sang Pencipta.
Kelincahan para penari merupakan simbol semangat dan kekuatan para nenek moyang kita dahulu. Di dalam suatu sajian Ebeg akan melalui satu adegan yang unik yang biasanya di tempatkan di tengah pertunjukan. Atraksi tersebut sebagaimana di kenal dalam bahasa Banyumasan dengan istilah mendhem. Pemain akan kesurupan seperti halnya makan beling atau pecahan kaca, makan dedaunan yang belum matang, makan daging ayam yang masih hidup, berlagak sepeti monyet, ular, dan sebagainya.
Ebeg termasuk kesenian yang tergolong cukup diperhitungkan dalam hal umur. Diperkirakan kesenian jenis ini sudah ada sejak zaman animisme dan dinamisme. Salah satu bukti yang menguatkan Ebeg dalam jajaran kesenian tua adalah adanya bentuk-bentuk intrans atau wuru. Bentuk-bentuk kesenian ini merupakan ciri dari kesenian yang terlahir pada zaman animisme dan dinamisme.

B.   Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah yang telah di kemukakan. Maka rumusan masalah yang diangkat adalah :
1.     Bagaimanakah deskripsi Ebeg Banyumasan
2.     Bagaimanakah pandangan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed 2016 tentang kesenian Ebeg Banyumasan




C.   Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari makalah yang dibuat adalah :
1.     Mengetahui deskripsi Ebeg Banyumasan
2.     Mengetahui pandangan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed 2016

D.   Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan dari makalah ini mempunyai dua manfaat yaitu :
1.     Manfaat teoritis
Secara teoritis penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan yang berkaitan dengan Ebeg Banyumasan
2.     Manfaat praktis
Melalui tulisan makalah ini diharapkan mahasiswa dapat menyumbangkan pemikiran terhadap Ebeg Banyumasan dikalangan remaja, khusunya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed 2016


E.   Pembahasan

1.     Deskripsi seni Ebeg Banyumasan
Dalam kegiatan ebeg memerlukan banyak persiapan dalam hal perlengkapan maupun kesiapan fisik dan mental para pemain. Acara biasanya di mulai setelah waktu sholat duhur atau sekitar jam 1 siang sampai jam 5 sore. Peralatan yang perlu dipersiapkan seperti Gendhing pengiring yang dipergunakan antara lain kendang, saron, kenong, gong, dan terompet. Selain gendhing dan tari, ada juga ubarampe yang harus disediakan seperti bunga-bungaan, pisang raja dan pisang mas, kelapa muda (degan), jajanan pasar, dan lainnya. Untuk mengiringi tarian ini selalu digunakan lagu-lagu irama Banyumasan seperti ricik-ricik, gudril, blendrong, lung gadung, cebonan, dan sebagainya. Jumlah penari biasanya 8 orang dua diantaranya penthul-tembem, satu orang sebagai pemimpin atau dalang dan 7 orang lagi sebagai penabuh gamelan. Dan satu grup ebeg biasanya terdiri dari 15 orang atau lebih. Semua penari menggunakan alat bantu ebeg dan si penthul-tembem memakai topeng. Tarian ini termasuk tarian massal, jadi biasanya tarian ebeg dilakukan di tempat luas seperti lapangan ataupun pelataran rumah yang cukup luas.
Ketika para penari mulai kesurupan atau yang dikenal dengan mendhem. Pada saat mendhem, para penari sedang dirasuki oleh indhang. Indhang adalah roh halus yang dapat merasuki orang dan memberikan kekuatan tertentu kepada orang tersebut sehingga ia dapat mencapai suatu tindakan yang melebihi kemampuan manusiawinya. Adanya Indhang dalam kesenian ini merupakan mitos masyarakat Banyumas. Mitos merupakan sebuah keyakinan, kepercayaan yang ada dalam kehidupan masyarakat dan sebagai hasil kebudayaan yang mentradisi sejak zaman dahulu sampai sekarang.
Pada babak ebeg-ebegan, indhang yang datang bukanlah indhang yang baik, tetapi indhang jahat/brangasan sehingga penari ebeg yang telah kerasukan indhang akan mencapai keadaan trance yang membuatnya mampu melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, misalnya: memakan pecahan kaca tanpa terluka, memegang bara api tanpa menjadi terbakar, duduk dengan menggunakan pisau tetapi tidak terluka, dan ada yang mengajak berkelahi penonton apabila  indhang yang masuk merupakan  indhang yang jahat dan memiliki dendam dengan seseorang sewaktu hidupnya. Gerak para penari yang sudah kerasukan indhang sangat berbeda dengan gerak penari lainnya. Para penari yang trance atau mendem (ndadi) mereka sudah memiliki kekuatan, stamina yang lebih bahkan mampu melakukan kegiatan di luar jangkauan manusia biasa. Mereka makan kaca/beling, bara api, padi, bunga, kreweng atau pecahan genting dan makan ayam hidup-hidup.
Untuk mendapatkan indhang para penari ebeg harus melakukan ritus. Keberadaan indhang yang merasuki penari ebeg sebagai kekuatan yang berasal dari alam lain membuat para penari melakukan cara-cara khusus untuk mendapatkannya. Penari yang memperoleh Indhang harus melakukan laku tirakat. Laku tirakat adalah menjalankan sikap-sikap hidup sederhana dalam arti yang sesungguhnya, hidup bersih dan melakukan berbagai kegiatan upacara yang meningkatkan kemampuan untuk berkonsentrasi dengan jalan pengendalian diri, dan melakukan berbagai latihan semedi. Dalam hal ini, biasanya penari ebeg harus melakukan puasa weton atau puasa hari lahir, puasa Senin-Kamis, dan bersemedi di petilasan Brawijaya.
Di samping Indhang manusia, danyang Brawijaya sering memberikan indhang binatang, seperti kuda, buaya, dan monyet. Seorang penari yang kerasukan indhang kuda menunjukkan perilaku yang mirip dengan kuda seperti melompat-lompat, meringkik, menyepak-nyepak sambil mengibaskan ebegnya, memakan makanan yang biasa dimakan kuda yaitu bekatul, beras, bunga kantil, bunga melati, daun papaya, dan rumput yang ada di sekitar pemain atau sengaja disediakan. Kalau belum tersedia biasanya penari yang sedang trance akan meminta melalui pawangnya.
Penari yang kerasukan indhang monyet biasanya akan melepaskan properti ebeg yang dipakai. Penari bergerak, bersuara, dan berteriak-teriak sambil meperlihatkan giginya, memanjat pohon, memetik buahnya, memakan buah sambil bergelantungan di pohon seperti yang dilakukan monyet. Penari juga dapat mengupas kelapa dengan giginya, memecahkannya dan memakan buah kelapa tanpa alat bantu yang lain. Penari yang sudah kerasukan indhang buaya akan bergerak layaknya seekor buaya. Penari akan berguling-guling di tanah, merangkak sambil meliuk-liuk, meminum air, dan memakan makanan yang layaknya dimakan buaya.
Dalam ebeg, saat para penari mendhem menunjukan kekuatan satria, demikian pula pemain yang menaiki kuda kepang menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. Biasanya dalam pertunjukan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan, penthul dan cepet. Tidak jarang penonton ikut terbawa dengan atraksi tersebut. Secara tidak sadar, beberapa penonton akan mengikuti gerakan  dari si penari kuda lumping, ikut menari bersama penari kuda lumping lainnya. Hal tersebut karena mereka dari penonton telah terkena roh penari kuda lumping.
Semua penari yang kerasukan Indhang akan bergerak dan menunjukkan aksinya dalam waktu yang tidak sama. Proses penyembuhan dari trance dilakukan oleh pawang dengan cara memberikan air putih yang sudah diberi mantra kepada penari yang sedang trance dan penari memberikan bisikan kepada pawangnya atau penari lain untuk menyediakan syarat yang diminta oleh indhang. Setelah syarat dipenuhi maka penari dipegang ubun-ubunnya dan dibisiki mantra-mantra, ditiup ubun-ubunnya. Penari yang sudah disembuhkan akan terjatuh dan tidak sadar selama beberapa menit sampai indhang yang ada dalam tubuhnya menghilang atau kembali ke alamnya.
Proses penyembuhan oleh pawang tidak selamanya mulus ada yang indhang tidak mau pergi dari tubuh penari sebelum disembuhkan dengan cara khusus, yakni meminta kepada pawang untuk ditidurkan di atas dua buah alat penumbuk padi atau dalam bahasa jawa disebut alu, kemudian ditutup dengan kain diangkat oleh beberapa orang dibawa berputar-putar baru diletakkan di atas tanah, didiamkan sampai indhang tersebut pergi, penari akan sadarkan diri dan membuka kain itu sendiri kemudian berdiri seperti tidak terjadi apa-apa dalam dirinya.

2.     Pandangan
Ebeg Banyumasan menurut Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed 2016:
Pertanyaan :
1)  Apa yang Anda ketahui tentang Ebeg Banyumasan?
2)  Apa Anda tahu tentang mitos atau hal-hal yang berkaitan dengan hal mistis yang ada di ebeg? Berikan contohnya.
3)  Apakah ditempat Anda terdapat kesenian serupa?
4)  Bagaimana pandangan Anda tentang Ebeg Banyumasan pada zaman sekarang?
5)  Menurut Anda, bagaimana cara untuk melestarikan Ebeg Banyamasan?
Jawaban dari berbagai mahasiswa :
a)  Shafira Anindyanari-Purwakarta, Jawa Barat
1)  Sebenarnya saya tidak tahu Ebeg Banyumasan, tetapi kata teman saya Ebeg Banyumasan sejenis kuda lumping.
2)  Iya tahu, seperti di rasuki arwah.
3)  Ada tetapi sudah jarang, namanya di daerah saya ya kuda lumping.
4)  Saya tidak tahu persis Ebeg Banyumasan karena kesenian ini sudah hampir tidak ada.
5)  Dengan cara banyak membuat acara yang menampilkan Ebeg Banyumasan.
b)  Helmina Rafifa Faiztyan-Purwokerto, Jawa Tengah
1)  Ebeg Banyumasan itu kesenian Banyumasan seperti kuda lumping, makan beling, pakai indhang.
2)  Tau, tetapi tidak tahu persis. Orang yang punya indhang biasanya itu dapat dari turun temurun sesepuhnya. Jadi ga semua orang bisa punya indhang, maka dari itu si orang yang punya indhang bisa makan beling, makan serabut kelapa dan melakukan hal-hal yang berbahaya lainnya.
3)  Tidak ada, kebanyakan ebeg ada di desa.
4)  Menurutku ebeg itu susah di cari. Aku pengin nonton tetapi ga ada, sekalipun ada itu juga cuma di ketahui komunitas tertentu yang secara luas ga di publikasian. Aku harap mereka bisa muncul lagi terutama pemerintah harus lebih sadar bahwa ebeg bisa menambah nilai pariwisata karena itu adalah salah satu keunikan yang dimiliki oleh banyumas.
5)  Generasi muda sekarang ada yang berusaha untuk melestarikan budaya ebeg tersebut agar ga punah dan mendedikasikan diri untuk kesenian tersebut.
c)   Ochto Ilhamdi Sujagad-Purbalingga, Jawa Tengah
1)  Seni pertunjukan yang banyak mengandung hal mistis.
2)  Tentang arwah yang merasuki tubuh pemain ebeg.
3)  Ada, Ebeg Purbalingga.
4)  Kurang begitu diminati, karena sampai sekarang tidak bisa go internasional.
5)  Sosialisasi oleh pekerja seni ebeg tersebut kepada masyarakat melalui media sosial.
d)  Arum Widayatni-Batang, Jawa Tengah
1)  Baru dengar. Saya tahunya kuda lumping.
2)  Kalo musik udah nyala biasanya banyak yang kesurupan kaya di masukin roh halus gitu.
3)  Ada, kuda lumping namanya bukan ebeg.
4)  Kurang di lestarikan dan anak jaman sekarang juga banyak yang tidak tahu.
5)  Bikin sanggar agar anak muda mempunyai wadah untuk melestarikannya.
e)   Ngaisah-Purwokerto, Jawa Tengah
1)  Suatu kebudayaan banyumas yang di lakukan oleh laki-laki.
2)  Tau, seperti ghaib. Pada saat si penari “njantur” konon ada makhluk halus di dalamnya.
3)  Ada ebeg juga dan di tempatku ada sanggarnya juga.
4)  Biasa saja, sebenernya tergantung dari pandangan seseorang tentang kebudayaan itu.
5)  Di awali dari masyarakat sendiri karena jika masyarakat itu menyadari bahwa kesenian itu harus tetap ada dan di lestarikan.
f)   Muhammad Rifqi Ilhami-Jakarta, Jawa Barat
1)  Tidak tahu Ebeg Banyumasan.
2)  Biasanya ada kesurupan, bisa makan beling, dan lain-lain.
3)  Kalo dari budayanya ada tapi kalau dari acara sering tidak ada.
4)  Sekarang kurang, dalam artian tidak ada yang meneruskan seakan di telan bumi.
5)  Di bangun kesadaran, karena budaya di suatu daerah itu penting sebagai identitas daerah tersebut.

F.    Penutup

A.   Kesimpulan
Secara garis besar, begitu banyak kesenian serta kebudayaan yang ada di Indonesia diwariskan secara turun-menurun dari nenek moyang bangsa Indonesia hingga ke generasi saat ini. Sekarang, kita sebagai penerus bangsa merupakan pewaris dari seni budaya tradisional yang sudah semestinya menjaga dan memeliharanya dengan baik. Tugas kita adalah mempertahankan dan mengembangkannya, agar dari hari ke hari tidak pupus dan hilang dari khasanah berkesenian masyarakat kita.
B.   Saran
Kesenian tradisional Ebeg Banyumasan merupakan bentuk kesenian warisan budaya yang tetap kita jaga dan lestarikan. Namun, alangkah baiknya bila kesenian tradisional Ebeg Banyumasan ini di lestarikan oleh anak muda zaman sekarang, agar kelak Ebeg Banyumasan tidak cepat di lupakan dan tidak akan punah untuk selamanya.

G.  Daftar Pustaka

Sukoco, Antonius., 2010, Pengertian Kebudayaan dan Seni, (https://etno06.wordpress.com/2010/03/17/pengertian-kebudayaan-dan-seni/ , diakses tanggal 2 Desember 2016).
Fauzi, Hafiz., 2016, Ebeg Banyumasan, (http://www.banyumasku.com/ebeg-banyumas/ , diakses tanggal 2 Desember 2016)




Gambar Hasil Wawancara

Description: C:\Users\ASUS\Pictures\20161123_145808.jpg
Gambar.1 Wawancara Shafira Anindyanari-Purwakarta-Komunikasi 2016
Description: C:\Users\ASUS\Pictures\20161123_150458.jpg               
Gambar.2 Wawancara Helmina Rafifa F-Purwokerto-Komunikasi 2016

Description: C:\Users\ASUS\Pictures\20161123_173353.jpg
Gambar.3 Wawancara Ochto Ilhamdi S-Purbalingga-Komunikasi 2016
Description: C:\Users\ASUS\Pictures\20161123_173825.jpg
Gambar.4 Wawancara Arum Widayatni-Batang-Komunikasi 2016
Description: C:\Users\ASUS\Pictures\20161123_174214.jpg
Gambar.5 Wawanca Ngaisah-Purwokerto-Komunikasi 2016
Description: C:\Users\ASUS\Pictures\1479916174166.jpg
Gambar.6 Wawancara Muhammad Rifqi I-Jakarta-Komunikasi 2016