Minggu, 28 Mei 2017

Teori Gender dalam Film PINK ( Hindies Film )



Kisah berawal dari Tiga gadis yaitu Minal Arora, Falak Ali dan Andrea tinggal bersama sebagai penyewa disebuah lokalitas mewah di sebelah Selatan kota Delhi dan mereka merupakan seorang pekerja yang profesional di bidangnya masing masing. Pada Suatu malam, setelah konser rock mereka bertiga menerima undangan makan malam dari Rajveer, yang merupakan keponakan dari seorang politisi kuat dari Delhi Selatan, dan dua orang lain untuk sebuah resor di Surajkund, district Faridabad, Haryana. Rajveer dikenal Minal melalui seorang teman umum. Rajveer dan teman-temannya mabuk, dan begitu Minal dan teman temannya. Mencari kesempatan, ketiga orang laki laki tersebut memisahkan tiga gadis dari satu dengan yang lainnya. Rajveer kemudian mencoba untuk menganiaya Minal, meskipun dia mengatakan kepadanya tidak ada. Minal mengambil botol dan memukulnya pada mata Rajveer, dan meninggalkan luka pada nya. Rajveer sangat marah dan ingin membalas dendam, Dia dan teman-temannya mencoba untuk mengosongkan gadis gadis dari rumah mereka dengan mengancam mereka dan pemilik. Minal bahkan diculik dan dianiaya oleh teman teman Rajveer di dalam mobil. Minal akhirnya terpaksa mendekati polisi dengan maksud pengajuan FIR terhadap Rajveer dan teman temannya. Namun, mengetahui Rajveer dan keluarganya, petugas polisi wanita yang bertugas tidak mendaftar keluhan. Saat realisasi, Rajveer menyampaikan FIR palsu terhadap para gadis gadis, dengan menuduh mereka sebagai pelacur, menggunakan kontak yang kuat. Minal kemudian dikenakan biaya untuk percobaan pembunuhan dan untuk meminta. Di mana dia bisa menghadapi hukuman penjara selama lebih dari 10 tahun, jika terbukti bersalah. Para Gadis gadis diberi tuduhan sebagai terdakwa. Deepak Sehgal adalah seorang pengacara pensiunan yang menderita gangguan bipolar, yang mana Ia sering mengalami perubahan suasana hati, dan mempunyai seorang istri yang sedang sakit. Ia juga seorang tetangga Minal, Falak dan Andrea. Dia saksi masalah mereka dan setelah berkonsultasi dengan istrinya, mewakili perempuan di pengadilan sebagai pembela mereka.
Di dalam adegan film ini yang mendasar pada teori Genderlect Styles adalah perilaku kedua pihak utama dalam film ini, kelompoknya Minal dan kelompoknya Rajveer, setelah terjadinya peristiwa yang melatarbelakangi kasus. Sementara Minal dan teman-temannya berupaya meneruskan hidup mereka setelah kejadian di hotel — menghindari konflik lanjut, Rajveer dan teman-temannya berupaya berbalas dendam — menimbulkan konflik lanjut. Ini sesuai dengan salah satu asumsi Genderlect Styles yang menyatakan bahwa dalam berkomunikasi, laki-laki cenderung mencari konflik sedangkan perempuan cenderung menghindari konflik.
            Gambaran adegan tentang  Standpoint Theory adalah bagaimana peristiwa di hotel dijelaskan oleh kedua pihak pada pengadilan. Pihak Rajveer mencoba menyalahkan para perempuan meskipun sebenarnya merekalah yang bersalah karena sudah mencoba menganiaya Minal dan teman-temannya. Sedangkan itu, pihak Minal berusaha membela diri dan nama baik mereka, suatu hal yang relatif sulit dalam masyarakat di mana perempuan distereotip sebagai pelacur jika mereka pulang malam, pindah dari rumah keluarga mereka tanpa menikah, menginginkan kebebasan, minum alkohol, dan sebagainya. Dari standpoint pihak Minal, memenangkan kasus ini membutuhkan usaha yang besar.
            Berkaitan dengan Muted Groups Theory digambarkan bahwa Deepak harus mengingatkan pada pengadilan bahwa perempuan memiliki hak untuk menolak. Peristiwa ini menunjukkan bahwa tidak cukup bagi kaum perempuan untuk mengatakan bahwa “tidak” adalah “tidak”. Minal dan teman-temannya masih membutuhkan seorang pengacara untuk memingatkan kepada pengadilan tentang hak yang dimiliki seorang wanita. Bahwa Minal dan teman-temannya juga disarankan oleh pihak polisi untuk berdiam saja daripada melaporkan peneroran yang dilakukan oleh pihak Rajveer.

Speech Codes Theory



Pengantar Speech Codes Theory
            Gerry Philipsen adalah pencetus Speech Codes Theory. Pada waktu diNorthwestern, Philipse membaca sebuah artikel dari University of Norwegia antropologi dan ilmu bahasa dari Dell Hymes, bahwa “The Ethnography of Speaking”. Hymes menyebut bahwa variasi dari praktek komunikasi mengelilingi dunia. Philipsen dengan tegas memulai studinya di komunitas Chicago dimana ia bekerja dan memberikan nama tersebut “Teamsterville”. Setelah tiga tahun, Philipse berbicara kepada anak-anak di pojok jalan, wanita di depan serambi, laki-laki di pojok bar, dan kepada semua orang di perkampungan dimana dia bekerja bahwa dia bekerja untuk bisa menjelaskan kode-kode bicara pada penduduk di Teamsterville. Dengan kode bicara, Philipsen menunjukan kepada sejarah yang ditetapkan, konstruksi secara sosial sistem dari terminologi, makna, alasan, dan aturan, menyinggung tingkah laku komunikasi. Philipsen menguraikan inti dari teori kode berbicara dalam dalil yang umum.

Theory Speech Codes
Tujuan lain  Speech codes theory ialah menemukan hubungan antara komunikasi dan budaya Speech Codes mempelajari tentang perbedaan budaya jika seseorang masuk ke dalam kebudayaan lain, maka orang tersebut akan mengikuti kebudayaan yang lebih   dominan tersebut dengan cara memahami komunikasi verbal, non verbal, serta pola komunikasi yang ada di kebudayaan tersebut. Philipsen mengemukakan lima proposisi yang bisa menjelaskan tentang teori ini, diantaranya, berbicara, substansi kode berbicara, interpretasi kode berbicara, pemetaan kode berbicara, serta kekuatan kode berbicara. Berikut adalah penjelasannya:
The Distinctiveness of Speech Codes, Di setiap populasi manusia ada sebuah budaya, dan disitu ada speech code yang khas.
The Substance of Speech Codes, speech code juga mencakup sosial budaya, sosiologi, dan retorika. Ada 3 substansi speech codes. Dalam konteks psikologi, setiap kode dari cara berkomunikasi secara khas adalah sisi ke aslian individu. Konteks sosiologi,  pola individu berbicara mencakup jawaban tentang hubungan antara diri sendiri dan orang lain. Philipsen mendefinisikan rhetoric sebagai persuasi dan pengetahuan.
The Interpretation of Speech Codes, Pembicaraan yang signifikan bergantung pada interpretasi komunikasi mereka.
The Force of Speech Codes in Discussions, Kegunaan speech code bersama adalah menciptakan kondisi  untuk memprediksi, menjelaskan, dan prudens (bijaksana, hati-hati) dan menjaga moralitas dari perilaku komunikasi. Setiap apa yang dinamakan kebudayaan memiliki perbedaan dalam hal  berkehidupan sosial  ataupun  bergaul  dan juga memiliki aturan – aturan yang hanya atau juga dapat berlaku di suatu tempat terjadinya budaya tersebut. contohnya di negara maju seperti amerika  orang yang lebih bersifat individualis         yang bersifat lebih mementingkan sendiri dan sangat berbeda di kebudayaan indonesia dengan budaya timurnya yang lebih  bersikap kolektivis atau bersama-sama. Dan juga untuk memahami komunikasi lintas budaya lebih lanjut perlu untuk mengetahui ciri khas antara dua kebudayaan tersebut baik itu gerak tubuh atau bentuk komunikasi lainnya, sehingga kita dapat memahami maksud komunikasi lintas budaya dan berkomunikasi sesuai dengan harapan  atau ekspektasi kebudayaan lain. Dan supaya kita mengetahui dan memahami cara-cara atau pola prilaku yang berkembang diluar kebudayaan kita. Biasanya speech code akan berlaku pada sesama individu yang memahami maksud dari suatu komunikasi verbal non verbal dan pola prilaku dari lawan bicaranya yang berasal atau mengerti dan menginterprestasikan sama dengan apa yang dimaksud si komunikator. Sehingga speech code akan berlaku ketika apa yang akan disampaikan sudah dipahami oleh individu-individu yang saling berinteraksi tersebut, baik itu berasal dari lingkungan sosial yang sama ataupun budaya yang sama.





Penerapan
Teori ini cocok diterapkan dalam komunikasi interpersonal. Banyaknya suku dan budaya di Indonesia menyebabkan kita kesulitan berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda budaya dengan kita. Namun perbedaan tersebut akan menjadi mudah apabila orang-orang mampu untu mengkaitkan dengan kajian etnografi. Dalam berkomunikasi kita bisa menggunakan bahasa nasional yang mudah dimengerti dan dipahami oleh masyarakat umum, walaupun berbeda budaya.

Contoh Kasus
Salah satu pembahasan teori ini adalah gaya bahasa seseorang, atau logat bahasa. Misalnya, ketika kita pertama kali datang ke purwokerto dan menetap untuk kuliah di UNSOED salah satu yang berbeda adalah logat bahasa, dan interaksi sosial yang ada. Logat atau bahasa masyarakat purwokerto bisa disebut gaya “Ngapak” banyumasan. Gaya bahasa Ngapak Banyumasan ini benar-benar berbeda dari daerah kami.

Face Negotiation Theory



Pengantar Teori Face-Negotiation Theory
Teori ini ada ketika beberapa dekade yang lalu masyarakat mengalami konflik dan mereka ingin menanggulangi konflik tersebut. teori menjelaskan bahwa akar konflik didasarkan pada identitas manajemen pada tingkat individu dan budaya. Berbagai aspek dari individu dan identitas budaya yang digambarkan sebagai wajah.. Muka umum adalah gambar dari seorang individu atau kelompok masyarakat yang mereka melihat dan menilai berdasarkan norma-norma dan nilai-nilai budaya. Konflik yang terjadi ketika individu atau kelompok memiliki wajah yang seperti terancam.
Face Negotiation Theory dikemukakan pertama kali oleh Stella Ting-Toomey pada tahun 1985. Teori ini membantu mengelola konflik budaya yang berbeda dalam aspek komunikasi, selain itu teori ini dikembangkan  sebagai cara untuk memprediksi bagaimana seseorang akan menyempurnakan identitas mereka (facework) dalam kebudayaan yang berbeda. Sifat alami yang akan muncul pada tiap orang adalah bagaimana mereka memperlihatkan identitas mereka dan bisa dianggap keberadaanya oleh orang lain. Face, atau bisa juga disebut sebagai pencitraan diri atau rasa positif yang tertanam dalam diri kita mengenai budaya kita saat kita dikenalkan atau berada dalam budaya lain. Sedangkan facework merupakan perilaku komunikasi yang bertujuan untuk melindungi pencitraan diri kita di depan orang lain.

Teori Face-Negotiation Theory
                                                                 
Teori yang diciptakan oleh Stella Ting-Tommey ini dapat membantu menjelaskan perbedaaan-perbedaan budaya dan merespon konflik yang ada di dalamnya. Ting-Tommey berasumsi bahwa seseorang dalam setiap budayanya selalu menampakkan rupa negosiasi. Cara ini bertujuan sebagai kiasan dalam image publik mereka, yang kita inginkan orang lain untuk melihat perlakuan kita. Facework identik dengan pesan verbal dan non-verbal yang berguna untuk membantu mempertahankan dan mengembalikan yang hilang, serta untuk menegakkan kehormatan seseorang. Dalam teori ini ada dua inti variable yang harus diperhatikan, yaitu individualisme dan kolektifisme. Beberapa budaya mungkin akan lebih mengutamakan individualism dalam bermasyarakat dibanding dengan komunitas atau berkelompok. Setiap orang akan memiliki rasa untuk menjadi seorang yang individualis atau mungkin berkelompok. Akan tetepi, lama kelamaan hal itu akan dipengaruhi oleh faktor luar seperti kebudayaan yang mengikatnya.
Selain individualism-kelompok, ada hal lain yang akan mempengaruhi facework, yaitu power distance atau kekuatan jarak. Di beberapa kebudayaan di dunia, pasti akan terdapat tingkatan hierarki yang memisahkan status seseorang secara kuat. Dengan adanya status ini akan mempengaruhi kekuatan yang dimiliki oleh individu dan mengikat apa yang bisa dilakukan oleh mereka. Akan tetapi memang ada pula budaya yang tidak terlalu mementingkan hierarki di dalamnya. Kekuatan yang dimiliki dalam kelompok tersebut tidak akan jauh satu sama lain.
The Multiples Faces of Face, meskipun kebijaksaan yang popular dibarat salam muka sebagai keasyikan orang Asia, Ting-Toomey dan peneliti lain yang berhubungan mencari untuk dijadikan perhatian dunia. Itu karena face sebagai sebuah perluasan dari konsep diri, mudah diserang, dasarb sumber identitas. Face bermakna berbeda, bergantung pada budaya dan identitas individu.
Ting-Toomey mengidentifikasikan 5 respons yang berbeda pada berbagai situasi, yaitu Avoiding, Menghindari diskusi dengan anggota kelompok lain mengenai perbedaan yang dimiliki. Obliging, Memberikan harapan kepada anggota kelompok. Compromising, Menggunakan give-and-take untuk kesepakan yang dapat dibuat. Dominating, Teguh dalam mempertahankan pendapat pribadi demi kepentingan pribadi. Integrating, Menukar ketepatan informasi dengan anggota kelompok untuk memecahkan masalah bersama. Tujuan utama yang hendak dicapai oleh teori milik Ting-Toomey ini adalah mengidentifikasi bagaimana orang-orang dengan budaya yang berbeda dapan bernegosiasi (negotiate face) atau menangani konflik. Menurutnya, ada tiga syarat ketrampilan yang harus dipenuhi agar komunikasi antarbudaya bisa efektif, yaitu:

Knowledge─pengetahuan, adalah dimensi terpenting dalam kompetensi facework. Untuk bisa berkomunikasi dengan orang baru, kita harus tahu hal-hal yang berbeda antara kita dengannya. Dari situ kita bisa mengatur strategi apa yang bisa kita gunakan untuk berkomunikasi dengannya. Mindfulness─artinya waspada terutama pada asumsi, sudut pandang, dan kecenderungan etnik kita sendiri ketika kita memasuki situasi yang tidak biasa (unfamiliar situation). Minfulness adalah memperhatikan perspektif dan interpretasi orang lain yang asing bagi kita dengan memandang intercultural episode. Interaction skill─yaitu kemampuan untuk berkomunikasi secara tepat, efektif, dan adaptif dalam setiap situasi yang kita alami.


Catatan Kritis
Contoh yang diberikan dalam teori ini menggambarkan budaya kolektivisme orang Jepang dan budaya individualisme orang Amerika Serikat. Namun sangat berbahaya menciptakan stereotype yang general bagi masyarakat Jepang atau Amerika Serikat. Kenyataannya, ketika digambarkan dalam satu garis lurus, ada area yang overlapping atau tumpang tindih antara perilaku kolektivisme atau individualisme masyarakat Jepang maupun Amerika Serikat.
Ting-Toomey memperkenalkan konsep independent dan interdependent dengan mengacu pada ‘derajat di mana orang akan merasa dirinya adalah manusia otonom atau terhubung dengan orang lain’. Markus dan Kitayama menyebutnya dengan self-construal atau self-image.
 

Penerapan
Teori ini menjelaskan tentang perbedaan budaya dalam mengatasi konflik antar budaya dalam konteks komunikasi. Teori ini bisa diterapkan dalam keadaan seseorang individu di kalangan masyarakat yang berbudaya berbeda dalam komunikasi interpersonal, artinya individu dapat menerapakan dirinya dalam suatu komunitas dengan perbedaan kelompok sehingga terjadilah negosiasi antar individu dalam komunikasi interpersonal. Kelompok biasanya mengalami konflik dikarenakan perbedaan kebudayaan. Konflik dalam teori ini bisa dikatakan sebagai miss communication dimana adanya pesan yang tidak tersampaikan yang merupakan akibat dari perbedaan konsep setiap individu.


Contoh Kasus

            Ajang pencarian bakat Indonesia Idol akan segera dimulai, banyak kota-kota di Indonesia yang mengadakan audisi di daerah-daerah Tiara adalah seorang penyayi dari panggung, dia sudah terbiasa menyayi dari panggung ke panggung. Saat itu, Marni teman Tiara mengetahui adanya audisi di daerahnya. Lalu, Marni memberitahu Tiara akan hal tersebut. Marni, meminta Tiara untuk mengikuti audisi indonesia idol. Tiara merasa terkejut akan hal itu, tiara merasa dirinya sendiri belum mempunyai pengalaman musik, dan dirasa masih dini untuk mengikuti ajang sebesar indonesian idol. Tiara juga merasa suaranya tidak sebagus peserta lain, dan Tiara malu karena berasal dari desa. Tetapi, Marni tetap memberikan dukungan dan motivasi untuk Tiara. Pada akhirnya, Tiara mengikuti audisi dan berhasil lolos.


            

Uses and gratification Theory



Pengantar Teori Uses and Gratificaation
Teori uses and gratification tidak lepas dari ahli yang bernama Elihu katz, teori ini adalah salah satu teori komunikasi (massa) dimana titik berat penelitian dilakukan pada pemirsa atau khalayak sebagai penentu pemilihan pesan dan media.
Uses and Gratification Theory yang merupakan salah satu dari teori komunikasi massa melihat audiens dari proses komunikasi massa sebagai individu yang aktif, selektif dan memiliki tujuan tertentu terkait dengan terpaan media kepadanya. Artinya individu atau audiens (khalayak) sebagai makhluk sosial mempunyai sifat selektif dalam menerima pesan yang ada dalam media massa.
Uses and Gratifications meneliti asal mula kebutuhan manusia secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media masa atau sumber-sumber lain (atau keterlibatan pada kegiatan lain) dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan penelitian yang menggunakan Uses and Gratifications model memusatkan perhatian pada kegunaan isi media untuk memperoleh gratifikasi atau pemenuhan kebutuhan. Mc quail (1995) mengatakan ada dua hal utama yang mendorong munculnya pendekatan penggunaan ini. Pertama, ada oposisi terhadap pandangan deterministis tentang efek media. Sikap ini merupakan bagian dari “penemuan kembali manusia” yang terutama terjadi pada sosiolog di amerika. Kedua, ada keinginan untuk lepas dari debat yang berkepanjangan tentang selera media masa. Dalam persoalan ini pendekatan Uses and Gratifications model menyajikan alternatif lain dalam memandang hubungan antara isi media dengan komunikan, dan dalam pengkategorian isi media menurut fungsi.


Teori Uses and Gratification                 
            Teori ini memposisikan audiens sebagai aktif, artinya audiens bebas untuk melakukan hal selektif  dan memilih media sesuai keinginan , dan setiap orang bebas untuk memilih media sesuai passion dan keinginan mereka. Banyak asumsi dari Uses and Gratifications Theory. Ada lima asumsi dasar dari Uses and Gratifications Theory, antara lain adalah,  Audiens aktif dan penggunaan medianya berorientasi pada tujuan, Inisiatif dalam menghubungkan kebutuhan pemuasan untuk pilihan media tertentu terletak pada audiens, Media bersaing dengan sumber-sumber lain untuk kepuasan kebutuhan, media memberikan pengaruh berbeda terhadap orang yang berbeda, serta audiens dapat melaporkan kepuasan yang mereka dapat dari media. Ada beberapa cara untuk mengidentifikasi mengklasifikasi kebutuhan dan kepuasan audiens yaitu: Diversion (Pengalihan), yang didefinisikan sebagai pelarian dari rutinitas dan permasalahan sehari-hari. Personal relationships (Hubungan Pribadi), yang muncul saat orang menggunakan media sebagai pengganti temannya. Personal identity(Identitas Diri), atau cara untuk memperkuat nilai-nilai individu. Surveillance (Pengawasan), atau informasi bagaimana media akan membantu seseorang untuk mencapai sesuatu. Ada beberapa tipologi dari teori ini, diantaranya adalah untuk Passing Time artinya seseorang menggunakan media untuk menghabiskan waktu luang. Companionship, artinya seseorang menggunakan media untuk menambah persahabatan dan kebersamaan dengan orang lain. Enjoyment artinya media digunakan seseorang untuk menambah unsur kenikmatan mereka. Social Interaction disini seseorang menggunakan media untuk menambah interaksi dalam kehidupan sosial. Relaxation disini media digunakan sebagai alat relaksasi. Information menjelaskan bahwa seseorang menggunakan media sebagai alat informasi. Excitement disini media berfungsi sebagai alat kegembiraan tersendiri.

Sebagaimana dikutip McQuail telah menunjukkan pengaruh mood seseorang saat memilih media yang akan ia gunakan, pada saat seseorang merasa bosan maka ia akan memilih isi yang lebih menarik dan menegangkan dan pada saat seseorang merasa tertekan ia akan memilih isi yang lebih menenangkan dan ringan. Program TV yang sama bisa jadi berbeda saat harus kepuasan pada kebutuhan yang berbeda untuk individu yang berbeda. Kebutuhan yang berbeda diasosiasikan dengan kepribadian seseorang, tahap-tahap kedewasaannya, latar belakang, dan peranan sosialnya. Sebagai contoh anak-anak secara khusus lebih menyukai untuk menonton TV untuk mencari informasi dan disaat yang sama lebih mudah dipengaruhi.

Catatan Kritis
Teori ini sebenarnya mudah dipahami tapi ada sedikit catatan bahwa tidak semua khalayak mengkonsumsi pesan dari media massa untuk mencapai kepuasaan atau tujuan tertentu,sebenarnya dalam penggunaan media bisa juga terkait dengan kebiasaan seseorang sehingga tidak memiliki alasan tertentu mengapa ia mengkonsumsi media.Teori ini mengesampingkan kemungkinan bahwa media bisa jadi memiliki pengaruh yang tidak disadari pada kehidupan pemirsanya.Teori ini dapat dikatakan tidak sempurna saat digunakan untuk menilai media yang telah digunakan dalam hal kebiasaan yang dilakukan penggunanya.Namun teori ini tetap tepat untuk digunakan dalam menilai hal-hal spesifik tertentu yang menyangkut pemilihan seseorang saat menggunakan media.


Penerapan
Teori Uses and Gratification ini dapat diterapkan dalam komunikasi masa. Dengan menggunakan teori ini sebagai dasar penelitian mengenai media dimasyarakat tentang alasan alasan khalayak mengapa terus mengkonsumsi media tertentu dan sebenarnya kepuasan apa yang khalayak dapat dari penggunaan media tersebut. Tidak hanya itu penggunaan teori ini juga bisa digunakan ketika kita dihadapkan dengan munculnya media baru,misal internet. Kita diharapkan dapat menyeleksi hal-hal positif dalam penggunaan media internet itu sendiri,sebagai pengguna aktif dan selektif,serta dapat memilih setiap media sesuai content atau pesan apa yang kita butuhkan.

Contoh Kasus
            Akhir-akhir ini Ahmadi mendapatkan banyak tugas kuliah. Hampir setiap hari dalam satu minggu Ahmadi berada di area Hotspot untuk menyelesaikan tugasnya. Tetapi pada suatu hari, Ahmadi sengaja untuk meluangkan waktunya untuk melepaskan penat dari tugas kuliah. Ahmadi meluangkan waktunya dengan cara menonton film terbaru di bioskop, selain itu juga Ahmadi mengunjungi Mall hanya untuk sekedar jalan-jalan atau window shoping.