Selasa, 05 Desember 2017

Analisis Konflik Horizontal : Ambon Berdarah 1999

A.    Pengertian Konflik

Konflik adalah suatu masalah sosial yang timbul karena adanya perbedaan pandangan yang terjadi di dalam masyarakat maupun negara.Pengertian Konflik menurut Robbins, Konflik adalah suatu proses yang dimulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah memengaruhi secara negatif atau akan segera memengaruhi secara negatif pihak lain.Menurut Alabaness, Pengertian Konflik adalah kondisi yang dipersepsikan ada di antara pihak-pihak atau lebih merasakan adanya ketidaksesuaian antara tujuan dan peluang untuk mencampuri usaha pencapaian tujuan pihak lain.
Dari kedua pengertian konflik yang disampaikan pakar di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Konflik adalah proses yang dinamis dan keberadaannya lebih banyak menyangkut persepsi dari orang atau pihak yang mengalami dan merasakannya. Dengan demikian jika suatu keadaan tidak dirasakan sebagai konflik, maka pada dasarnya konflik tersebut tidak ada dan begitu juga sebaliknya.
Faktor penyebab konflik ada bermacam-macam. Beberapa faktor penyebab konflik, yaitu :
1.       Salah satu faktor penyebab konflik adalah Saling bergantungan. Saling bergantungan dalam pekerjaan terjadi jika dua kelompok organisasi atau lebih saling membutuhkan satu sama lain guna menyelesaikan tugas.
2.       Salah satu faktor penyebab konflik ialah perbedaan tujuan. Perbedaan tujuan yang terdapat diantara satu bagian dengan bagian yang lain yang tidak sepaham bisa menjadi faktor penyebab munculnya konflik.
3.       Salah satu faktor penyebab konflik yaitu perbedaan persepsi atau pendapat. Dalam hal menghadapi suatu masalah, perbedaan persepsi yang ditimbulkan inilah yang menyebabkan munculnya konflik.
Faktor penyebab konflik menurut Smith, Mazzarella dan Piele antara lain :
1.      Masalah komunikasi merupakan salah satu faktor penyebab konflik, yang bisa terjadi pada masing-masing atau gabungan dari unsur-unsur komunikasi, yaitu sumber komunikasi, pesan, penerima pesan dan saluran.
2.      Struktur organisasi merupakan salah satu faktor penyebab konflik, yang secara potensial dapat memunculkan konflik. Pada setiap departemen atau fungsi dalam organisasi mempunyai kepentingan, tujuan dan programnya sendiri-sendiri yang seringkali berbeda dengan yang lain.
3.       Faktor manusia merupakan salah satu faktor penyebab konflik, sifat manusia satu dengan yang lain berbeda dan juga unik. Hal ini yang berpotensi memunculkan konflik.
Ada tiga pandangan mengenai konflik, yaitu :
1.       Pandangan Tradisional, menyatakan bahwa konflik harus dihindari karena akan menimbulkan kerugian. Dalam aliran ini memandang konflik sebagai sesuatu yang tidak menguntungkan, sesuatu yang buruk dan selalu merugikan dalam organisasi. Oleh karenanya, konflik harus dicegah dan dihindari sebisa mungkin dengan mencari akar permasalahannya.
2.       Pandangan Hubungan Kemanusiaan, menyatakan bahwa konflik merupakan sesuatu yang alamiah, wajar dan tidak terelakkan dalam setiap kelompok manusia. Konflik tidak selalu dipandang buruk karena memiliki potensi kekuatan yang positif di dalam menentukan kinerja kelompok. Konflik ini tidak selamanya bersifat merugikan, bahkan bisa menguntungkan, yang oleh karena itu konflik harus dikelola dengan baik.
3.       Pandangan Interaksionis, menyatakan bahwa konflik bukan sekedar sesuatu kekuatan positif dalam suatu kelompok, akan tetapi mutlak diperlukan untuk suatu kelompok agar dapat berkinerja positif, dengan demikian konflik harus diciptakan. Pandangan ini didasarkan pada keyakinan bahwa organisasi yang harmonis, tenang dan damai ini justru akan membuat organisasi itu menjadi statis dan tidak inovatif. Hal ini kemudian berdampak pada kinerja organisasi yang menjadi rendah.

Macam Macam Konflik
Berbicara mengenai macam macam konflik, maka konflik dibedakan dalam beberapa perspektif antara lain :
1.      Konflik Intraindividu. Konflik ini dialami oleh individu dengan dirinya sendiri karena adanya tekanan peran dan ekspektasi di luar berbeda dengan keinginan atau harapannya.
2.      Konflik Antarindividu. Konflik yang terjadi antarindividu yang berada dalam suatu kelompok atau antarindividu pada kelompok yang berbeda.
3.      Konflik Antarkelompok. Konflik yang bersifat kolektif antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.
4.      Konflik Organisais. Konflik yang terjadi antara unit organisasi yang bersifat struktural maupun fungsional. Contoh konflik ini : konflik antara bagian pemasaran dengan bagian produksi.

Macam macam konflik ditinjau dari fungsinya, yaitu :
1.       Konflik Konstruktif merupakan konflik yang memiliki nilai positif bagi pengembangan organisasi.
2.       Konflik Destruktif ialah konflik yang berdampak negatif bagi pengembangan organisasi.

Macam macam konflik ditinjau dari segi instansionalnya, yaitu :
1.      Konflik kebutuhan individu dengan peran yang dimainkan dalam organisasi. Tidak jarang keinginan dan kebutuhan karyawan bertentangan atau tidak sejalan dengan kepentingan dan kebutuhan organisasi. Hal ini yang bisa memunculkan konflik.
2.      Konflik peranan dengan peranan. Misalnya setiap karyawan organisasi yang memiliki peran berbeda-beda dan ada kalanya perbedaan peran tiap individu tersebut memunculkan suatu konflik, karena setiap individu tersebut berusaha untuk memainkan peran tersebut dengan sebaik-baiknya.
3.      Konflik individu dengan individu lainnya. Konflik ini seringkali muncul jika seorang individu berinteraksi dengan individu lainnya karena latar belakang, pola pikir, pola tindak, minat, kepribadian, persepsi dan sejumlah karakteristik yang berbeda antara hubungan yang satu dengan yang lain.

Macam macam konflik ditinjau dari segi materi atau masalah yang menjadi sumber konflik, yaitu :
1.      Konflik tujuan. Adanya perbedaan tujuan antarindividu, organisasi atau kelompok dapat memunculkan konflik.
2.      Konflik peranan. Setiap manusia memiliki peran lebih dari satu. Peran yang dimainkan ini seringkali memunculkan konflik.
3.      Konflik nilai. Nilai yang dianut seseorang seringkali tidak sejalan dengan sistem nilai yang dianut organisasi atau kelompok. Hal ini juga dapat berpotensi untuk memunculkan konflik.
4.      Konflik kebijakan. Konflik ini muncul karena seorang individu atau kelompok tidak sependapat dengan kebijakan yang ditetapkan organisasi.


Macam macam konflik menurut Mastenbroek, yaitu :
1.      Instrumen Conflicts adalah Konflik yang terjadi karena adanya ketidaksepahaman antarkomponen dalam organisasi dan proses pengoperasiannya.
2.      Socio-emotional Conflicts yaitu konflik yang berkaitan dengan identitas, kandungan emosi, prasangka, kepercayaan, citra diri, keterikatan, identifikasi terhadap kelompok, lembaga dan lambang-lambang tertentu, sistem nilai dan reaksi individu dengan yang lainnya.
3.      Negotiating Conflicts atau konflik negosiasi ialah ketegangan-ketegangan yang dirasakan pada waktu proses negosiasi terjadi, baik antara individu dengan individu maupun kelompok dengan kelompok.
4.      Power and Dependency Conflicys adalah konflik kekuasaan dan ketergantungan berkaitan dengan persaingan dalam organisasi, misalnya pengamanan dan penguatan kedudukan yang strategis.

B.     Konflik Horizontal
Konflik horizontal merupakan konflik yang terjadi antar individu atau kelompok yang memiliki kedudukan yang sama. Konflik horizontal sejajar dan bertingkat yang terjadi antara komunitas yang satu dan komunitas yang lain.  Konflik horizontal merupakan  pertentangan antara suatu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya (Hadiati, 2007:8). Konflik horizontal  ini disebabkan oleh isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).  Konflik yang ditimbulkan berupa pertikaian antar kelompok, anarkisme, tawuran. Faktor faktor yang mempengaruhi terjadinya konflik horizontal seperti ideologi politik, faktor ekonomi dan faktor faktor primodial.
Konflik horizontal terbagi menjadi dua perbedaan penyebabnya pertama, persoalan individu dan persoalan komunal. Senada dengan yang dinyatakan Maurice Duverger menyatakan perbedaan akan terus ada yang menciptakan kuat dan lemah dalam hal ini dibagi individual (intelektualitas, psikologis) dan kolektif (ras, kelas sosial, sosiokultural).
1.       Persoalan individu
Setiap individu berbeda dengan individu lainnya, merupakan hal yang lazin jika individu mempunyai tiap-tiap kebutuhannya, Maslow misalnya membuat piramida kebutuhan tiap-tiap individu, Kebutuhan fisiologi (sandang,papan, pangan), rasa aman, rasa cinta, harga diri dan aktualisasi diri. Dalam proses pemenuhan kebutuhan setiap individu haruslah berkopetisi antara satu dan lainnya, proses kompetisi tersebut akan membuahkan konflik. Jelas individu superior akan lebih unggul dibandingkan individu yang inferior, begitu pula individu inferior akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebutuhannya. Sehingga psikologis individu sangat menentukan dalam proses kebutuhannya, terlebih perbedaan intelektualitas individu inferior yang mendominasi individu lainnya. Jelas bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang membentuk kelompok-kelompok, tentunya didalam kelompok tersebut akan menimbulkan persaingan yang merangsang munculnya hawaanun natiqun, sehinggah kompetisi individu satu dengan lainnya akan menimbulkan konflik antar sesama individu lainnya.
2.      Persoalan Komunal
Dalam persoalan komunal, merupakan hal yang wajar jika individu-individu saling mempunyai kesamaan satu dengan yang lainnya, seperti kesamaan agama, kesamaan etnis, kesamaan hobi, dll. Kesamaan tersebut akan membuat entitas kelompoknya, entitas kelompok ini akan menjadi solid dan tumbuh bersama dalam kesamaan yang dibangun, Ibn Khaldun menyebutnya dengan Ashobiyah mencintai kelompok.

Pemenuhan kebutuhan merupakan hal yang sangat penting dalam keseharian manusia, tentunya dalam pengaturan strategi manusia cenderung mendominasi hasil kebutuhan tersebut misalnya monopoli makanan, minyak, dan SDA lainnya. Barang tentu dalam penguasaan kebutuhan tersebut manusia harus mendominasi pula relasi ekonomi, jika meminjam konsep Marx bahwa dunia dibagi oleh 2 kelas yaitu Borjuis dan Proletar, dalam hal ini kaum borjuis telah mendominasi alat produksi sehingga proletar hanya sebagai pasar. Perjuangan Marx untuk menjadikan dunia menjadi satu kelas saja, dipicu juga oleh ketimpangan borjuis yang selalu berpakain serba higt class dibandingkan kaum proletar, penyebab ketidakadilan sosial yang menciptakan kelas-kelas merupakan penyebab utama dari konflik horizontal.



C.     Kronologi Konflik Ambon 1999

Januari-Maret 1999. Peristiwa diawali konflik antarpreman Batumerah (Muslim) dan Mardika (Kristen) pada tgl. 19 Januari 1999, dalam sekejab menimbulkan pertikaian antarkelompok agama dan sukubangsa, dan meledak menjadi kerusuhan besar di Ambon. Kerusuhan itu bahkan meluas ke seluruh Pulau Ambon. Kota dan desa-desa di Ambon bertebaran dengan puing-puing bangunan rumah ibadat, rumah tinggal dan toko yang dibakar serta diratakan dengan tanah. Kota Ambon dan sebagian desa-desa sekitarnya tersegregasi ketat dan terbagi dalam 2 wilayah: Islam dan Kristen. Pemerintah daerah, aparat keamanan, pemuka-pemuka agama dan adat kemudian sibuk melakukan upaya-upaya rekonsiliasi dengan mengadakan upacara panas pela dilakukan di sana-sini. Sejak akhir Maret sampai pertengahan Juli 1999, Ambon relatif reda dari kerusuhan besar.
Juli-November 1999. Suasana Ambon tenang-tenang tegang bersama atraksi kampanye menjelang pemilu. Usai Pemilu, ketegangan meningkat dan tiba-tiba pecah di daerah Poka, dan meluas ke bagian lain di Ambon. Segregasi semakin ketat. Di Ambon hanya tersisa 1 desa (Wayame) yang masyarakatnya tetap berbaur. Sebutan merah diganti dengan Obet (Robert) dan putih menjadi Acang (Hasan).
Akhir Desember 1999-pertengahan Januari 2000. Memasuki bulan puasa, awal bulan Desember 1999, konflik mereda, namun setelah kunjungan Presiden dan Wakil Presiden pada akhir bulan Desember 1999 kerusuhan menguat. Selepas kunjungan Wapres berikutnya di bulan Januari 2000 terjadi lagi kerusuhan.
April 2000-Agustus 2000. Sejak Februari-Maret 2000, sebenarnya situasi di Ambon sudah tenang. Upaya rekonsiliasi dilakukan di beberapa tempat: di Jakarta (oleh tim rekonsiliasi pusat), di Belanda atas inisiatif dan undangan pemerintah Belanda, di Bali oleh Pemerintah Inggris lewat Perwakilan PBB, dan di atas kapal-kapal TNI-AL dalam program Surya Bhaskara Jaya (SBJ). Sehari setelah kunjungan Wakil Presiden ke Ambon dalam rangka program SBJ, diawali peristiwa makan Patita antara kelompok milisia Batumerah (Muslim) dengan Kudamati (Kristen, kerusuhan mulai merebak lagi dan menjadi berkepanjangan dengan cetusan berbagai dan di bulan Juni-Juli dengan adanya ribuan pasukan Jihad di Ambon. Sebagian desa-desa Kristen habis rata dengan tanah. Terdapat Jaringan Kerja Relawan. Relawan Muslim sangat sulit berkomunikasi dengan yang Kristen, karena takut terhadap tekanan dari jihad. Reaksi dari masyarakat Kristen lebih membutuhkan intervensi asing untuk pengamanan.
Di samping keempat garis besar, konflik yang terjadi di Ambon sebenarnya memiliki latar belakang lain yaitu aspek sosial ekonomi. Konflik sosial ekonomi yang terjadi di Ambon antara warga Muslim—baik pribumi maupun pendatang, yang perkonomiannya dianggap relatif baik karena rata-rata berprofesi sebagai pedagang serta tiga puluh tahun terakhir lebih banyak berperan dalam pemerintahan—dan kelompok Kristen yang merasa termarjinalisasi oleh keadaan-keadan tersebut. Pada politik jaman penjajahan, Belanda membuat segregasi terhadap penduduk Hindia Belanda ke dalam empat kelas, yaitu bangsa Eropa, pribumi beragama Kristen, bangsa Timur Asing dan Pribumi non-Kristen. Hal ini menyebabkan warga Islam Indonesia termasuk Ambon merasa termarjinalisasi. Masyarakat Ambon dan Maluku memang mengalami semacam segregasi wilayah berdasarkan agama (Kristen dan Muslim) sebagaiwarisan sistem kolonialisme pemerintah Belanda. Warga Islam dengan kondisi yang marjinal tetap dapat bertahan dengan bekerja sebagai pedagang dan banyak pedagang datang dari sekitar Maluku yang menyebabkan Islam semakin bertahan. Seusai jaman penjajahan dan berganti pemerintahan Soeharto yaitu Orde Baru, kebijakan saat itu telah memarjinalisasi warga Kristen karena warga Islam sebagai pedagang banyak memunculkan intelektual ekonomi yang menduduki posisi dalam pemerintahan. Hal ini menyebabkan kebencian warga Kristen terhadap warga Islam. Kebencian masih bisa diredakan karena pada saat itu masih sering dilakukan pela gandong untuk meningkatkan keharmonisan hubungan antar agama di Ambon. Namun, selama Orde Baru, kebudayaan pela gandong mulai digantikan dengan pendekatan keamaanan (ABRI) di mana jika terjadi konflik maka akan dikenakan sanksi yang berat. Setelah jatuhnya pemerintahan Soeharto, kebencian yang terpendam akhirnya menjadi konflik kerusuhan yang besar.
Upaya-upaya rekonsiliasi tetap dilakukan. Namun, upacara panas pela menjadi tidak efektif karena hanya 20% saja yang merasa memiliki ikatan pela gandong, pendatang tidak merasa memiliki ikatan pela gandong tersebut. Selain itu pelaku utama konflik seperti preman, milisia, kapitan-kapitan dan panglima-panglima perangnya tidak mengikuti upacara panas pela.# Kesadaran kebersamaan masyarakat terus diadudomba melalui istilah merah putih, dan Acang Obet. Pernyataan para pemuka agama tidak dilakukan dalam pengadaan forum tetapi dilakukan melalui cemooh dalam media televisi yang menjadikan media sebagai pemecah belah masyarakat Ambon. Hal ini menunjukkan bahwa konflik yang terjadi di Ambon tidak murni berasal dari pihak dalam Ambon, tetapi adanya ikut campur pihak luar Ambon yang memiliki kepentingan dan membiayai konflik tersebut menjadi pemicu konflik.

DAFTAR PUSTAKA


Coward, Harold. 1989.  Pluralisme dan Tantangan Konflik Agama. Yogyakarta: Kanisius

Setyo, Guntur. 2013. Ambonku Berdarah. www.analisakonflikambon.com . Diakses pada 22 November 2017


Sopiah, 2008. Konflik konflik dalam masyarakat. Penerbit CV ANDI OFFSET : Yogyakarta.

Konstruksi Kelas Dalam Media : Konstruksi Kelas Dalam FTV di Indonesia

A.    Pengertian Konstruksi Sosial

Dalam lingkungan masyarakat kita melihat bahwa ada pembeda-bedaan yang berlaku dan diterima secara luas oleh masyarakat. Di sekitar kita ada orang yang menempati jabatan tinggi seperti gubernur dan wali kota dan jabatan rendah seperti camat dan lurah. Di sekolah ada kepala sekolah dan ada staf sekolah. Di rt atau rw kita ada orang kaya, orang biasa saja dan ada orang miskin.
Perbedaan itu tidak hanya muncul dari sisi jabatan tanggung jawab sosial saja, namun juga terjadi akibat perbedaan ciri fisik, keyakinan dan lain-lain. Perbedaan ras, suku, agama, pendidikan, jenis kelamin, usia atau umur, kemampuan, tinggi badan, cakep jelek, dan lain sebagainya juga membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Beragamnya orang yang ada di suatu lingkungan akan memunculkan stratifikasi sosial (pengkelas-kelasan) atau diferensiasi sosial (pembeda-bedaan). Kelas sosial atau golongan sosial merujuk kepada perbedaan hierarkis (atau stratifikasi) antara insan atau kelompok manusia dalam masyarakat atau budaya. Biasanya kebanyakan masyarakat memiliki golongan sosial , namun tidak semua masyarakat memiliki jenis-jenis kategori golongan sosial yang sama. Berdasarkan karakteristik stratifikasi sosial, dapat kita temukan beberapa pembagian kelas atau golongan dalam masyarakat. Beberapa masyarakat tradisional pemburu-pengumpul, tidak memiliki golongan sosial dan seringkali tidak memiliki pemimpin tetap pula. Oleh karena itu masyarakt seperti ini menghindari stratifikasi sosial. Dalam masyarakat seperti ini, semua orang biasanya mengerjakan aktivitas yang sama dan tidak ada pembagian pekerjaan. Klasifikasi Kelas Sosial Pembagian Kelas Sosial terdiri atas 3 bagian yaitu:
a.       Berdasarkan Status Ekonomi.
1.      Aristoteles membagi masyarakat secara ekonomi menjadi kelas atau golongan, menjadi :
a.       Golongan sangat kaya
b.      Golongan kaya
c.       Golongan miskin




2.      Karl Marx juga membagi masyarakat menjadi tiga golongan, yakni:
a.       Golongan kapitalis atau borjuis : adalah mereka yang menguasai tanah dan alat produksi.
b.      Golongan menengah : terdiri dari para pegawai pemerintah.
c.       Golongan proletar : adalah mereka yang tidak memiliki tanah dan alat produksi. Termasuk didalamnya adalah kaum buruh atau pekerja pabrik.
Menurut Karl Marx golongan menengah cenderung dimasukkan ke golongan kapatalis karena dalam kenyataannya golongan ini adalah pembela setia kaum kapitalis. Dengan demikian, dalam kenyataannya hanya terdapat dua golongan masyarakat, yakni golongan kapitalis atau borjuis dan golongan proletar.
3.      Pada masyarakat Amerika Serikat, pelapisan masyarakat dibagi menjadi enam kelas yakni:
a.       Kelas sosial atas lapisan atas ( Upper-upper class)
b.      Kelas sosial atas lapisan bawah ( Lower-upper class)
c.       Kelas sosial menengah lapisan atas ( Upper-middle class)
d.      Kelas sosial menengah lapisan bawah ( Lower-middle class)
e.       Kelas sosial bawah lapisan atas ( Upper lower class)\
f.       Kelas sosial lapisan sosial bawah-lapisan bawah ( Lower-lower class)
4.      Dalam masyarakat Eropa dikenal 4 kelas, yakni:
1. Kelas puncak (top class)
2.Kelas menengah berpendidikan (academic middle class)
3. Kelas menengah ekonomi (economic middle class
4. Kelas pekerja (workmen dan Formensclass)
5. Kelas bawah (underdog class)

b.      Berdasarkan Status Sosial
Kelas sosial timbul karena adanya perbedaan dalam penghormatan dan status sosialnya. Misalnya, seorang anggota masyarakat dipandang terhormat karena memiliki status sosial yang tinggi, dan seorang anggota masyarakat dipandang rendah karena memiliki status sosial yang rendah.
Definisi Kelas Sosial Berdasarkan karakteristik Stratifikasi sosial, dapat kita temukan beberapa pembagian kelas atau golongan dalam masyarakat. Istilah kelas memang tidak selalu memiliki arti yang sama, walaupun pada hakekatnya mewujudkan sistem kedudukan yang pokok dalam masyarakat. Pengertian kelas sejalan dengan pengertian lapisan tanpa harus membedakan dasar pelapisan masyarakat tersebut. Kelas Sosial atau Golongan sosial mempunyai arti yang relatif lebih banyak dipakai untuk menunjukkan lapisan sosial yang didasarkan atas kriteria ekonomi.

B.     Konstruksi kelas dalam FTV Indonesia ( Film Televisi )

Film Televisi (FTV) merupakan salah satu program acara berupa sandiwara dengan kisah tertentu, sejenis drama dan sinetron dengan jumlah episode tunggal yang ditayangkan di televisi  nasional dan banyak diminati oleh masyarakat. Televisi sebagai media, yaitu alat atau sarana komunikasi untuk menyampaikan informasi kepada khalayak umum, mendukung penyebaran FTV secara luas di masyarakat. FTV pada mulanya termasuk dalam budaya massa karena disukai secara luas dan menjadi kebiasaan seluruh kalangan masyarakat untuk mengonsumsinya sehari-hari sebagai hiburan. FTV berkembang menjadi budaya populer dikarenakan telah dimasuki nilai-nilai, kepentingan, dan ideologi oleh industri. Masuknya nilai–nilai, kepentingan, dan ideologi ke dalam FTV yang dikonsumsi secara massa diduga mampu menanamkan hegemoni kepada masyarakat penikmatnya.
FTV banyak menawarkan percintaan antara dua kelas sosial yang sangat kontras, misalnya kisah percintaan antara si kaya dengan si miskin. Adegan wanita miskin yang mendadak kaya karena menikahi pria konglomerat, mertua kaya yang enggan memiliki menantu miskin dan selalu menyiksanya, serta tindakan menghalalkan segala cara demi mendapatkan kebahagiaan materi merupakan menu utama yang disajikan oleh FTV disetiap serinya. Contohnya pada FTV Cintaku Full Gak Setengah-Setengah yang menceritakan kisah cinta antara pria miskin yang tampan dengan wanita kaya raya. Kisah mereka selalu diawali dengan pertemuan yang kebetulan dan seolah-olah kebetulan itulah yang mengantarkan si miskin secara bertahap menuju kelas sosial yang lebih tinggi. Demikian juga pada FTV yang berjudul Pacarku Tukang Gali Kubur, dimana tokoh pria kaya jatuh hati kepada tokoh wanita miskin yang berprofesi sebagai tukang gali kubur. Kejadian-kejadian yang minim terjadi dalam realita kehidupan, menjadi doktrin yang selalu ada di tayangan FTV, sehingga mengakibatkan para penonton berandai-andai atau berangan-angan untuk mendapatkan hal yang jarang dalam realita tersebut.


Jika diselidiki lebih lanjut dapat kita temukan hegemoni ideologi yang menganggap kebahagiaan hidup hanyalah diukur dengan materi. Materi dalam hal ini merupakan sesuatu yang bisa dilihat secara kasat mata, seperti harta, tahta, dan lain sebagainya. Semakin banyak materi yang dimiliki berarti semakin tinggi status sosialnya dan semakin terhormat pula dirinya. Contoh pada FTV Cintaku Full Gak Setengah-Setengah, tokoh pria miskin selalu diremehkan oleh atasannya hingga suatu ketika si pria terlibat dalam hilangnya mobil sewaan dengan klien seorang wanita kaya. Kesalahan tersebut murni dilakukan oleh wanita kaya, tetapi tetap tokoh pria miskinlah yang menjadi kambing hitam. Pandangan merendahkan tokoh bos kepada tokoh pria miskin berubah saat tokoh wanita kaya ikut campur dengan menyuap tokoh bos. Deskripsi tersebut memperkuat hegemoni ideologi kepada masyarakat bahwa kelas sosial yang baik dan terhormat adalah kelas borjuis, bukan kelas proletar. Industri memanfaatkan hal ini untuk memberikan standar bagaimana seseorang dapat dikategorikan sebagai kelas borjuis, seperti kisah-kisah pada FTV bahwa borjuis itu digambarkan melalui setting cerita dan tema dalam ftv memiliki fasilitas apapun mulai dari rumah mewah, mobil impor, gadget canggih, memiliki saham dan bebas berinvestasi, berpendidikan tinggi, profesi yang dianggap ‘keren’ seperti pengusaha, pemilik perusahaan, pekerja militer dengan pangkat yang tinggi, dokter, dan lainnya.
Kekhasan lain dari FTV adalah menonjolnya konsep patriarki dalam penggambaran situasi dan tokohnya, konsep patriarki adalah konsep dimana pria dianggap sebagai gender yang terbaik. Pria adalah sosok maskulin yang digambarkan lebih rasional, kuat, protektif, dan apapun tindakannya dianggap lebih tepat dari pada wanita. Sedangkan wanita dianggap emosional, irasional bahkan terkesan bodoh, lemah, bersifat selalu mengabdi, dan apapun keputusan yang dibuat selalu berada di bawah keputusan pria. Menurut Storey (2010: 30) kaum wanita dilihat sebagai korban pasif dari pesan-pesan opera sabun (untuk masa kini sama dengan sandiwara) yang memperdayakan dan mengesampingkan kesenangan mereka melalui identifikasi perempuan cengeng. Dalam FTV misalnya, tokoh pemeran utama wanita terkesan bodoh dan terlalu percaya kepada kekasihnya sehingga ia tidak sadar telah dimanfaatkan, bahkan keputusan-keputusan yang ia buat untuk menyelesaikan masalah terkesan ceroboh. Sedangkan keputusan tokoh pria menjadi keputusan yang paling masuk akal.




DAFTAR PUSTAKA

Candra, Ayu. 2011. FTV sebagai media konstruksi kelas. Diakses pada 19 November 2017

Soekanto Soerjono,Pengantar Sosiologi,Cetakan Keempat,(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,1990).



FETISHME DALAM IKLAN PERMEN PINDY MINT *DINGIN-DINGIN EMPUK*

FETISHME DALAM IKLAN PERMEN PINDY MINT *DINGIN-DINGIN EMPUK*

(*)

Fetisisme berasal dari bahasa inggris fetishism dan diambil dari bahasa latin facticius yang artinya (“buatan”) dan facere (“untuk membuat”). Fetish dikenal untuk penyebutan obyek yang memiliki kekuatan spritual. Kemudian diperkenalkan fetish seksual atau (obyek seksual) yang dianggap sebagai sinonim dari fetish seksual. Fetisisme menurut para ahli ialah orang yang mencari gairah seksual melalui obyek. Fetisisme yang populer ialah para pencuri pakaian dalam perempuan dan sepatu wanita. Seseorang bisa sangat bergairah dengan mengambil celana dalam dan sepatu wanita.
Menurut J.P. Caplin fetishme ialah kondisi patologis dalam mana kegairahan seksual dan pemuasannya dilakukan dengan memegang atau meraba-raba objek –objek atau bagian-bagian tubuh yang non seksual dari seorang partner lawan jenis kelamin (J.P. Caplin 198). Pelaku baru didiagnosa menderita fetishisme apabila memiliki kepuasan seksual terhadap sesuatu sedikitnya enam bulan. Pelaku biasanya mengalami tekanan jiwa secara klinis, cenderung terisolir dari kehidupan sosial, pekerjaan, atau bidang fungsi penting lainnya, dan bisa membahayakan baik dirinya maupun orang lain. Setiap benda bisa menjadi fetish, namun diasumsikan bahwa pelaku hanya tertarik pada satu objek saja. Kebanyakan dilaporkan bahwa pelaku tertarik pada bagian tubuh dan pakaian dalam. Beberapa bentuk fetishisme dapat dikategorikan sebagai berikut: Pakaian dalam (lingerie),korset. Pakaian berbahan khusus seperti satin, dan bulu.Pakaian yang membentuk ketat seluruh tubuh bak kulit kedua, dengan bahan berkilat seperti kulit, karet. Pakaian renang, bodysuit untuk menyelam, celana pendek yang menampakkan sebagian besar paha, pakaian ketat atletik yang terbuat dari bahan elastis seperti lycra. Pakaian kasual seperti, kaos, celana jeans ketat, overalls (yang dulu biasa dikenakan oleh pekerja tambang). Pakaian kerja, seperti, perlente (umumnya dengan setelah kemeja berdasi yang dibalut dengan jas), coveralls/wearpack untuk teknisi bengkel. Pakaian seragam sekolah. Pakaian seragam militer dan kepolisian. Pakaian malam seperti gaun tembus pandang, rok, dan syal/selendang, piyama. Aksesoris seperti, Sepatu, sepatu boot, sepatu leg (boot menutup seluruh betis), sepatu kets, sepatu berhak tinggi, kauskaki dan stocking, baik jenis biasa maupun olah raga, suspender/tali selempang untuk menggantungkan celana/rok, rantai, ikat pinggang berukuran tertentu, gelang topeng gas, rokok dan perilaku merokok, body-piercing(tindik bagian tubuh), bagi wanita juga bisa berupa kuku jari, kaki, buah dada yang "dioperasi. Fetish adalah objek yang boleh jadi merupakan subjek kenikmatan atau kegairan seksual, dan fetishism adalah ketertarikan kepada fetish atau memakai fetish untuk memperoleh kegairahan dan kepuasan seksual (Dali Gulo , 1982:81). Menurut definisi kamus John Mc Echols dan Hassan Shadily, fetish diartikan sebagai pemujaan mutlak/mendalam. Namun menurut Cambridge's Dictionary, kata ini didefinisikan sebagai rangsangan secara seksual terhadap benda secara tidak wajar. Fetishme juga mempunyai turunan, yaitu:
1.      Teratofilia. Teratofilia merupakan daya tarik seksual seseorang yang sangat ingin untuk diamputasi demi kepuasan seksual.
2.      Furry Fandom. Furry fandom ialah kelainan pada orang yang suka berdandan atau menonton orang memakai pakaian hewan. Orang yang menderita fandom biasanya hobi menonton pornografi dan melakukan hubungan seksual dengan orang yang memakai pakaian seperti hewan.
3.      Fetisisme darah (Blood Fetish). Orang yang mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat seseorang berdarah, dan tak mengenakan pakaian. Blood fetish juga disertai dengan menjilat atau minum darah dari orang lain.
4.      Urolagnia. Urolagnia merupakan fetisisme yang dialami orang yang mendapat kenikmatan seksual dari buang air kecil atau melihat  orang lain buang air kecil. Bahkan jika sudah parah orang bisa mengonsumsi urine.
5.      Emetofilia. Orang yang mendapatkan kenikmatan seksual dengan melihat muntahan orang lain.
6.      Coprofilia. Coprofilia ialah orang yang mendapat kenikmatan seksual dari kotoran. Coprofilia juga mengonsumsi tinja. Sehingga penderita ini sering mengalami penyakit perut serius.
7.      Crush Fetish. Orang yang mendapatkan rangsangan seksual dengan membunuh serangga kecil hingga mati.
8.      Klismafilia. Orang yang mendapatkan kesenangan seksual dengan melakukan (pemasukan cairan ke dalam kolon melalui anus). Ini juga merupakan bentuk masturbasi dubur.
9.      Necrofilia. Necrofilia ialah orang yang mendapatkan daya tarik seksual pada mayat manusia. Ia sering menggali kuburan, mencuri mayat, dan melakukan hubungan seksual dengan mayat.
10.  Anthropophagolagnia. Anthropophagolagnia ialah orang yang mendapatkan kenikmatan seksual dengan aktifitas perkosaan. Biasanya penderita ini akan memperkosa pasangannya dan kalau sudah parah juga membunuhnya.


(*)

Menurut saya salah satu iklan yang mengandung fetishme adalah iklan Permen Pindy Mint yang diproduksi pada tahun 90an dengan bintang iklan Dewi Sandra dan Choki Sitohang. Seperti yang kita ketahui bahwa fetishme adalah sebuah kecederungan seseorang untuk mendapatkan gairah kepuasan seksual melalui beberapa objek tertentu. Salah satu wujud fetish dari iklan Pindy Mint karena shoot diambil saat hujan dan Dewi Sandra terlihat basah. Selain terlihat basah Dewi sandra memegang payung dan memakai sepatu hak tinggi serta pakaian ketat dan celana pendek. Dengan hal ini, bagi penderita fetish akan menumbuhkan gairah seksual mereka. Selain itu juga ada adegan dimana Dewi Sandra memakan permen dengan menjulurkan lidah tanpa memakai payung, dengan kata lain Dewi Sandra memakan permen dengan keadaan tubuh basah kuyup. Setelah itu, Choki Sitohang memeluk Dewi Sandra sehingga bagian dada Dewi Sandra menyentuh dada Choki Sitohang, kemudian Choki mengatakan *Dingin-Dingin Empuk*. Pemahaman Dingin-Dingin Empuk ini sangat ambigu. Pemahaman pertama adalah memang permen Pindy Mint ini terasa dingin jika dikonsumsi, dan empuk, tetapi disisi lain kata dingin-dingin empuk ini mengartikan bahwa saat choki memeluk Dewi Sandra dan menyentuh dada Dewi Sandra teras empuk, dan dingin diartikan saat itu Dewi Sandra basah kuyup.



(*)

Fetishme adalah kecenderungan seseorang bergairah terhadap suatu objek tertentu. Biasanya berupa sepatu, korset, selendang, pakaian, dan objek lainnya. Fetish mempunyai jenis jenis turunan yang tiap turunanya mempunyai ciri khas tertentu. Dalam industri kreatif misalnya dalam film, iklan, bahkan sinetron setidaknya ada hal yang mengandung fetishme. Wujud fetish dalam film, iklan, serta produk lainnya di Indonesia tidak terlalu jelas terlihat butuh pemahaman mendalam tentang fetish. Misalnya saja jika seseorang basah kuyup dan menjadi objek gairah seseorang.

Daftar Pustaka

Sandrajaya, 2009. Fetishme-Immaginasio Space. Dasbor: Jakarta

 www.smartfreshindonesia.com . Diakses pada 24 November 2017