Minggu, 28 Mei 2017

Cultivation Theory



Pengantar Teori Cultivation
            Teori Cultivation tidak lepas dari seorang dosen Sekolah Tinggi Komunikasi Annenberg Universitas Pennsylvania, yaitu Goerge Gerbner. Teori Cultivation merupakan salah satu teori yang mencoba menjelaskan keterkaitan antara media komunikasi dalam hal ini televise dengan tindak kekerasan.      Teori Kultivasi pada dasarnya menyatakan bahwa para pecandu (penonton berat/heavy viewers) televisi membangun keyakinan yang berlebihan bahwa “dunia itu sangat menakutkan” . Hal tersebut disebabkan keyakinan mereka bahwa apa yang mereka lihat di televise yang cenderung banyak menyajikan acara kekerasan adalah apa yang mereka yakini terjadi juga dalam  kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini masyarakat atau seseorang meyakini dan mempercayai bahwa tayangan Televisi seolah-olah nyata, sehingga merubah gaya hidup seseorang. Teori ini juga menekankan kepada efek yang akan muncul ketika seseorang menonton televisi, dan dapat merubah keyakinan dan opini masyarakat.

Teori Cultivation
                                                                 
Saat ini, televisi merupakan salah satu bagian yang penting dalam sebuah rumah tangga, di mana setiap anggota keluarga mempunyai akses yang tidak terbatas terhadap televisi. Dalam hal ini, televisi mampu mempengaruhi lingkungan melalui penggunaan berbagai simbol, mampu menyampaikan lebih banyak kisah sepanjang waktu. Gebrner menyatakan bahwa masyarakat memperhatikan televisi sebagaimana mereka memperhatikan tempat ibadah (gereja. Menurut Gerbner yang dilihat masyarakat  adalah kekerasan, karena ia merupakan cara yang paling sederhana dan paling murah untuk menunjukkan bagiamana seseorang berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Televisi memberikan pelajaran berharga bagi para penontonnya tentang berbagai ‘kenyataan hidup’, yang cenderung dipenuhi berbagai tindakan kekerasan.
Para pecandu berat televisi (heavy viewers) akan menganggap bahwa apa yang terjadi di televisi itulah dunia senyatanya. Misalnya, tentang perilaku kekerasan yang terjadi di masyarakat. Para pecandu berat televisi ini akan mengatakn sebab utama munculnya kekerasan karena masalah sosial (karena televisi yang dia tonton sering menyuguhkan berita dan kejadian dengan motif sosial sebagai alasan melakukan kekerasan). Padahal bisa jadi sebab utama itu lebih karena faktor cultural shock (keterkejutan budaya) dari tradisonal ke modern. Dengan kata lain, penilaian, persepsi, opini penonton televisi digiring sedemikian rupa agar sesuai dengan apa yang mereka lihat di televisi. Bagi pecandu berat televisi, apa yang terjadi pada televisi itulah yang terjadi pada dunia sesungguhnya. Dalam hal ini, Gerbner membagi ada 4 sikap yang akan muncul berkaitan dengan keberadaan heavy  viewers, yaitu, Mereka yang memilih melibatkan diri dengan kekerasan Yaitu mereka yang pada akhirnya terlibat dan menjadi bagian dari berbagai peristiwa kekerasan. Mereka yang ketakutan berjalan sendiri di malam hari Yaitu merekayang percaya bahwa kehidupan nyata juga penuh dengan kekerasan, sehingga memunculkan ketakutan terhadap berbagai situasi yang memungkinkan terjadinya tindak kekerasan. Beberapa kajian menunjukkan bahwa untuk tipe ini lebih banyak perempuan daripada laki-laki. Mereka yang terlibat dalam pelaksanaan hokum Yaitu mereka yang percaya bahwa masih cukup banyak  orang yang tidak mau  terlibat dalam tindakan kekerasan. Mereka yang sudah kehilangan kepercayaan Yaitu  mereka yang sudah apatis tidak percaya lagi dengan kemampuan hukum dan aparat yang ada dalam mengatasi berbagai tindakan kekerasan.
Gerbner menyatakan terdapat beberapa asumsi dari teori ini, yaitu Televisi dapat membuat asumsi tentang realitas dunia secara luas ketimbang memberikan opini dan sikap yang spesifik, semakin banyak seseorang menghabiskan waktu untuk menonton Televisi sehingga akan menyebabkan semakin kuatnya kecenderungan orang tersebut menyamakan realitas televisi dengan realitas sosial, penonton berat ( heavy viewers ) cenderung menggunakan televisi sebagai sumber
informasi utama, munculnya sikap mainstreaming ( Homogenisasi audiens ), dan resonansi ( perasaan atau kepercayaan bahwa apa yang dilihat televisi juga terjadi dalam kehidupan nyata ).
                                                                 
Catatan Kritis
Di dalam mempelajari teori ini tema utamanya adalah  kekerasan, kontrol lingkungan lebih cocok dibanding kontrol pendapatan. Sebuah hubungan nyata antara terpaan kekerasan televisi dan takut akan kejahatan dapat dijelaskan dengan lingkungan dimana penonton tinggal. Mereka yang tinggal di lingkungan yang tingkat kriminilitasnya tinggi lebih percaya bahwa kemungkinan untuk diserang atau diganggu daripada mereka yang tinggal di lingkungan yang tingkat kriminalitasnya rendah. Beberapa kritikus juga mengatakan bahwa penonton sebenarnya juga aktif di dalam usaha menekan kekuatan pengaruh televisi seperti yang tidak diasumsikan dalam cultivation theory. Cultivation theory menganggap bahwa penonton itu pasif dan lebih memfokuskan pada kuantitas menonton televisi atau terpaan dan tidak menyediakan perbedaan yang mungkin muncul ketika penonton menginterpretasikan siaran-siaran televisi. Penonton mempunyai

Penerapan
Teori kultivasi sering digunakan untuk menganalisis berbagai bentuk praktik komunikasi, terutama komunikasi massa khususnya televisi apa yang kita kenal cultivation analysis. Para penonton berat akan cenderung melihat dunia nyata seperti apa yang digambarkan di televisi. Semakin sering kita menonton suatu program televisi, kita akan semakin terpengaruh oleh program itu. Jika kita menonton acara seperti Buser, Patroli atau Sergap di televisi swasta Indonesia akan terlihat beberapa perilaku kejahatan yang dilakukan masyarakat. Dalam acara itu diketengahkan tidak sedikit kejahatan yang bisa diungkap. Dalam pandangan kultivasi dikatakan bahwa adegan yang tersaji dalam setiap acara menggambarkan dunia kita sebenarnya. Bahwa di Indonesia kejahatan itu sudah sedemikian mewabah dan kuantitasnya semakin meningkat. Acara itu seolah menggambarkan dunia kejahatan seperti itulah yang sebenarnya ada di Indonesia. Contoh lain, semakin sering kita menonton suatu sinetron, kita akan semakin beranggapan bahwa sinetron itu adalah suatu realitas. Jika kita sering melihat tokoh ibu tiri yang kejam di sinetron, maka di dunia nyata kita akan beranggapan bahwa ibu tiri itu kejam dan kita akan benci jika ayah kita menikah lagi. Hawkins dan Pingree menemukan model proses kultivasi, yaitu bahwa proses kultivasi dalam pikiran kita terbagi dua, yaitu learning dan constructing. Apa yang dilihat oleh audiens kemudian akan melalui tahap belajar dan diikuti tahap mengkonstruksi dalam pikiran audiens tersebut.

Contoh Kasus
            Akhir-akhir ini televisi banyak memberitakan tentang kasus kriminalitas, seperti penculikan anak, pedofilia, pelecehan terhadap anak, pembunuhan, penjualan organ manusia, dan tindak kriminalitas lainnya. Dengan adanya hal itu, banyak orang tua yang khawatir terhadap kondisi lingkungan sekitar yang mereka anggap seperti yang diberitakan di televisi. Ditambah lagi dengan tetangga mereka yang telah menjadi korban tindakan kriminalitas. Dalam hal ini, televisi atau media massa telah merubah keyakinan seseorang yang tadinya pemberani menjadi penakut, dan khawatir terhadap apa yang ada. Televisi telah merubah kepercayaan, merubah gaya hidup, dan merubah opini dalam masyarakat

Sabtu, 01 April 2017

Teori Cultural Studies ( Kajian Budaya )



Pengantar Teori Cultural Studies ( Kajian Budaya )
            Teori cultural studies atau sering disebut dengan teori kajian budaya adalah sebuah teori karya Stuart Hall yang mengadopsi teori kritis Marx. Lahir di tengah semangat Neo-Marxisme yang berupaya untuk meredefinisikan Marxisme, sebagai perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni budaya tertentu.  Cultural studies berakar dari gagasan Karl Marx, yang mempunyai pandangan bahwa kapitalisme telah menciptakan kelompok elit kuasa untuk melakukan eksploitasi terhadap kelompok yang tidak berkuasa dan lemah. Pengaruh kontrol kelompok berkuasa terhadap yang lemah menjadikan kelompok yang lemah merasa tidak memiliki kontrol atas masa depan mereka. Stuart Hall berpendapat bahwa suatu budaya pasti memiliki dan menyimpan ideoogi yang lebih berkuasa. Teori ini menempatkan Komunikasi Massa harus memahami konteks kultur yang ada, bukan hanya mencari tahu tentang sesuatu.

Teori Cultural Studies
Teori ini, sebenarnya mengkaji berbagai kebudayaan dan praktek budaya serta kaitannya dengan kekuasaan. Tujuannya adalah mengungkapkan hubungan kekuasaan serta mengkaji bagaimana hubungan tersebut mempengaruhi berbagai bentuk kebudayaan (sosial-politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, hukum dan lain-lain). Cultural studies tidak hanya merupakan studi tentang budaya yang merupakan entitas tersendiri yang terpisah dari konteks sosial dan politiknya. Tujuannya adalah memahami budaya dalam segala bentuk kompleksnya dan menganalisis konteks sosial dan politik tempat budaya tersebut berasal. Media massa sekarang ini cenderung memilih hal hegemoni, dalam hal ini hegemoni bertujuan untuk memaksa orang secara halus, dan memaksa seseorang lewat alam bawah sadar. Hegemoni adalah konsep yang mewakili pengaruh, kekuasaan atau dominasi kelompok sosial tertentu atas kelompok lainnya. Hegemoni budaya berarti kontrol sebuah kelompok atas kelompok lainnya melalui budaya. Konsep hegemoni banyak digunakan oleh sosiolog untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa.Hall menyatakan bahwa fungsi utama dari sebuah percakapan adalah membuat atau memaknai sebuah makna. Ketika pesan dikirimkan kepada masyarakat, maka khalayak akan menerima dan membandingkan pesan-pesan tersebut dengan makna sebelumnya yang telah disimpan dalam ingatan. Proses inilah yang disebut dengan decoding. Proses decoding mendapat perhatian dalam cultural studies karena menentukan arti pesan bagi seseorang. Fungsi yang kedua adalah sebagai alat kontrol dari Komunikasi Massa. Terdapat tiga skenario seseorang dalam memaknai dan mengkaji sebuah pesan melalui media. Yang pertama adalah Dominant, yang pada intinya seseorang menerima pesan apa adanya  tanpa adanya unsur kritis. Yang kedua adalah Negotiate, di sinilah seseorang mulai mengembangkan rasa dan sikap kritis mereka, akan mengolah pesan atau ide untuk diterimanya. Yang ketiga adalah sikap oposional, di sinilah seseorang menolak secara total tentang suatu berita atau pesan yang diterimanya.


Catatan kritis
            Menurut saya dalam teori ini Hall belum bisa memastikan kebenaran akan apakah yang dipublikasikan dimedia itu sesuai dengan kenyataan atau tidak.Masalahnya seringkali terjadi perbedaan pandangan antara pihak satu dan pihak lain mengenai kebenaran,dengan argumentasi masing-masing yang disampaikan secara logis,sehingga kita tidak  bisa  memastikan siapa pihak yang benar dan siapa pihak yang salah.Saya rasa tanpa standar kebenaran,teori Hall tidak mungkin bisa mengevaluasi kualitas dari kritik media. Selain itu juga, saya berpendapat bahwa teori ini terlalu memaksa terhadap hal hegemoni, dan memaksa khalayak untuk mengakui adanya status quo, serta pada teori yang disebutkan Hall bahwa semuanya yang terdapat pada media itu terdapat ideologi, tetapi tidak semua media menyimpan ideologi-ideologi. Teori ini lebih mengarahkan bahwa media sudah di konglomerasi dan ditunggangi oleh penguasa dominan.

Penerapan
Teori ini dapat diterapkan dalam lingkup komunikasi massa,dimana media massa memiliki pengaruh besar untuk mempengaruhi khalayak.Dimana media telah menjadi alat utama dimana kita semua belajar banyak aspek mengenai dunia disekitar kita,memberikan informasi dan mempersuasi khalayak mengenai produk dan kebijakan, walaupun sekarang ini media masa ditunggangi oleh penguasa dominan. Media juga membentuk makna dalam budaya,serta dapat membentuk ideologi. Teori hall mengingatkan bahwa akan sia-sia jika kita berbicara tentang meaning (makna), tanpa peduli pada keberadaan power.Karena seseorang yang memiliki power atau kekuasaan dapat berguna memengaruhi pemikiran orang banyak.Namun orang yang sedikit memiliki power sulit untuk bisa memengaruhi orang banyak. Selain dalam komunikasi massa teori ini juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.Mulai dari fashion,cara berjalan,gaya hidup dan sebagainya.Dengan mempelajari teori ini kita bisa lebih kritis dalam mengkonsumsi pesan,dan tidak mudah percaya dengan apa yang dilihat,sehingga bisa lebih bijak ketika akan melakukan sesuatu setelah kita mendapatkan suatu pesan.

Contoh kasus
            Akhir-akhir ini banyak sekali tayangan-tayangan yang sedikit tidak bermutu. Salah satunya adalah sinetron-sinetron yang menayangkan sisi kemewahan. Dari situlah aktor atau pemain menggunakan pakaian modis, perhiasan mewah, mobil mahal, dan tindakan yang tidak sesuai. Secara tidak langsung tayangan-tayangan itu telah merubah pemikaran seseorang, dan memancing seseorang untuk bertindak sesuai yang dia tonton. Penonton itu cenderung ingin meniru gaya mewah yang ditonjolkan, mungkin keinginan untuk mempunyai mobil mewah, perhiasan, fashion modis, dan hal lain. Dari sinilah acara atau tayangan itu akan merubah seseorang menjadi lebih konsumtif.

Teori Semiotika



Pengantar Teori Semiotika
Dalam hal ini, tokoh semiotik terkenal adalah Roland Barthes, dia menyatakan semiotika adalah bukan suatu sebab akibat, bukan sebuah pengetahuan, bukan sebuah disiplin ilmu, bukan sebuah perubahan, tetapi mungkin hanya sebuah teori. Tujuan utama dari semiotika adalah menafsirkan sinyal secara verbal dan non verbal. Verbal yang dimaksud biasanya disebut dengan Linguistik. Meskipun Barthes menitikberatkan pada sisi non verbal atau beraneka ragam sinyal visual yang hanya menunggu untuk dibaca. Barthes menyatakan bahwa semiotika atau semiologi adalah penekanan mengunakan apapun yang dapat berdiri untuk sesuatu yang lain, atau lebih jelasnya Semiologi adalah sebuah ilmu sosial yang mengartikan dari sebuah sinyal atau tanda-tanda

Teori Semiotika
            Teori yang bernamakan semiotics ini mengatakan bahwa gambar-gambar dalam media memiliki arti tertentu selain dirinya sendiri. Dalam teori ini, manusia dikatakan sebagai spesies yang dapat di dorong keinginannya untuk membentuk makna dari gambar-gambar tersebut. Rouland Barthes, juga pengikut saussurean berpendapat bahwa:”sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu”.Roland Barthes pernah berkata: ”Apa yang tidak kita katakan dengan lisan, sebenarnya tubuh kita sudah mengatakannya”. Pernyataan itu mengindikasikan signifikansi bahasa simbolik manusia.

Wrestling with signs, Barthes menggambarkan semiotika sebagai suatu mitos. Teori Barthes dari makna konotatif sangat dipengaruhi dari pemikiran Ferdinand De Saussure, Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya. Ia juga yang menciptakan istilah semiologi serta yang menganjurkan kajiannya. Barthes menggambarkan prinsip-prinsip intinya ini menjadi :

1.      A Sign Is the Combination of Its Signifier and Signified Tahap ini lebih melihat secara denotasi. Denotasi ialah tahap mempelajari tanda secara bahasa

2.      A Sign Does Not Stand on Its Own: It Is Part of a Sytem Tahap ini melihat secara konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang didalamnya beroprasi makna yang tidak langsung dan tidak pasti.

The yellow ribbon transformation Barthes berpendapat bahwa sistem mitos atau konotatif adalah urutan kedua sistem semilogical yang di bangun dari sebuah sistem tanda.
The making of myth Barthes menyatakan bahwa setiap tanda ideologis terdapat dua sistem tanda yang saling berhubungan. Sistem satu adalah penanda dan yang ke dua yaitu pertanda. Mitos yang  berurusan dengan semiologi telah berkaitan dengan dua istilah, yakni penanda (signifier) dan petanda (signified),dan kemudian bertautan lagi dengan istilah sign(tanda).
Unsmaking the myth of homogeneous society, Barthes menyimpulkan bahwa masyarakat tentang konotasi selalu berakhir sama. Yaitu, mitos memperkuat nilai-nilai yang dominan dari suatu budaya yang mereka miliki.

The semiotics of mass communication, Tanda-tanda semiotik semakin dikenal ketika disiarkan melalui media massa. Karena, tanda-tanda serta isu-isu merupakan bagian yang integral dari komunikasi massa. Barthes menyimpulkan bahwa, informasi yang disampaikan oleh media massa tentang suatu mitos adalah komoditas dengan tema berkhayal. Pokok studi pembelajaran semiotika/semiologi ini adalah tanda. Tanda itu sendiri memiliki ciri khusus yang penting. Pertama, tanda harus dapat diamati, dalam arti tanda itu dapat ditangkap makna atau artinya. Kedua, tanda harus menunjuk pada sesuatu yang lain, artinya bisa menggantikan, mewakili, dan menyajikan. Tanda dan hubungan-hubungannya adalah kunci dari analisis semiotik. Dimana relasi tersebut memunculkan makna.

Catatan Kritis
Mempelajari makna-makna simbolik, baik pada manusia maupun benda, merupakan hal yang sangat menarik. Karena banyak orang yang belum bisa menguraikan makna dengan sempurna dalam simbol-simbol kehidupan. Teori Semiotic melakukan proses pemaknaan komunikasi. Manusia melalui kemampuan akalnya berupaya berinteraksi dengan menggunakan tanda sebagai alat untuk berbagai tujuan, salah satu tujuan tersebut adalah untuk berkomunikasi dengan orang lain sebagai bentuk adaptasi dengan lingkungan. Teori ini tidak bisa dikategorikan sederhana, karena scope dari teori ini luas. Terlalu rumit untuk  dipraktekkan, karena pada dasarnya kita cenderung melihat sesuatu (objek) secara sepintas tanpa melihat fungsi&cara tanda itu bekerja.

  Penerapan
            Teori semiotika Barthes pada intinya menekankan pada hasil interpretasi kita terhadap hal-hal simbolik. Seringkali penerapan teori ini berada di lintasan interaksi interpersonal. Karena dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, pasti muncul sebuah simbol simbol yang dikeluakan. Selain itu juga, dalam hal komunikasi massa, komunikasi publik, komunikasi organisasi, dan komunikasi antarbudaya. Dalam berinterkasi dengan massa, publik, dalam sebuah organisasi, bahkan berinteraksi sesama yang berbeda budaya memerlukan suatu imajinasi dan pemaknaan terhadap simbol yang ada, baik verbal dan non verbal.

Contoh kasus
Teori semiotika sebenarnya memaksa masyarakat untuk memahami simbol yang ada. Misalnya, pada tanggal 28 Februari adalah hari Vallentine atau hari kasih sayang. Pada hari itu juga, Budi memberikan sebuah coklat kepada pacarnya yang bernama Tanti. Dari sinilah Tanti memahami maksud apa yang Budi berikan padany. Setelah ditelaah dan dikaji ulang, maksud Budi memberikan coklat pada hari vallentine adalah sebagai tanda kasih sayang, tanda cinta, tanda kebahagiaan, dan tanda ingin memiliki Tanti selamanya. Dari sinilah Tanti mulai mengerti akan keinginan Budi melalui simbol coklat yang diberikan saat hari vallentine.





Teori Media Ecology



Pengantar Teori Ekologi Media
Teori Ekologi media tidak lepas dari peran tokoh Marshall McLuhan. Teori McLuhan tentang Ekologi Media adalah gambaran baik dari pepatah terkenalnya, yaitu “ The Meedium is the message”. Pernyataan yang singkat itu membuat bingung harapan yang kita. Kita sudah terbiasa menganggap bahwa pesan yang kita bawa berasal dari alat media itu sendiri. Medium itu mengantarkan sebuah pesan. Ketika mengingat sebuah budaya akan memengaruhi media. Bagaimanapun kita selalu tersesat dalam ilusi sebuah konten. Medium adalah pesan,  ini adalah slogan dari Teori Ekologi Media,  Frase tersebut merujuk pada kekuatan dan pengaruh medium terhadap masyarakat, bukan isi pesannya. Medium mampu mengubah bagaimana kita berpikir mengenai orang lain, diri kita sendiri, dan dunia di sekeliling kita. Akan tetapi McLuhan tidak mengesampingkan pentingnya isi. McLuhan merasa bahwa isi mendapatkan perhatian lebih dari kita dibandingkan dengan yang didapat medium. Walaupun sebuah pesan mempengaruhi keadaan sadar kita, medium lebih besar mempengaruhi keadaan bawah sadar kita.

Teori Ekologi Media
Menurut McLuhan, Ekologi Media adalah Sebuah kajian tentang perbedaan individu dan lingkungan sosial yang diciptakan menggunakan teknologi komunikasi yang berbeda. Media mempunyai kekuatan membentuk opini masyarakat, orang menggunakan media untuk memperoleh kekuatan politik dan ekonomi dan bahkan mengubah susunan sosial dari sebuah masyarakat, media terdapat di dalam diri mereka untuk mengendalikan ide di dalam sebuah masyarakat.
Banyak pemahaman bahwa perubahan sosial dan budaya sulit untuk dilakukan tanpa adanya pengetahuan dari cara media sebagai lingkungan. Tetapi melihat tentang Ekologi dari Media adalah sebuah usaha yang sulit karena semua lingkungan itu berwujud dan saling berhubungan. Lingkungan adalah bukan untuk di identifikasi. Ada asumsi penting dari teori ini, yaitu
Media melingkupi setiap tindakan di dalam masyarakat. Kita tidak dapat melarikan diri dari media. Bahkan McLuhan menyebut angka, permainan, dan uang sebagai mediasi. Media-media ini mentransformasi masyarakat kita melalui permainan yang dimainkan, radio yang didengarkan, atau TV yang ditonton. Pada saat bersamaan.
Media memperbaiki persepsi kita dan mengorganisasikan pengalaman kita. Kita secara langsung dipengaruhi oleh media. Media cukup kuat dalam pandangan kita mengenai dunia. Sikap dan pengalaman kita secara langsung dipengaruhi oleh apa yang kita tonton di TV, dan sistem kepercayaan kita dapat dipengaruhi secara negatif oleh TV. McLuhan mempersepsikan TV sebagai hal yang memegang peranan penting dalam pengikisan nilai-nilai keluarga.
Media menyatukan seluruh dunia. Media menghubungkan dunia. McLuhan menggunakan istilah desa global (global village) untuk mendeskripsikan bagaimana media mengikat dunia menjadi sebuah sistem politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang besar. Manusia tidak lagi dapat hidup dalam isolasi, melainkan akan selalu terhubung oleh media elektronik yang bersifat instan dan berkesinambungan. Media elektronik memiliki kemampuan untuk menjembatani budaya-budaya yang tidak akan pernah berkomunikasi sebelum adanya koneksi ini.
McLuhan dan Quentin Fiore mengemukakan bahwa pada dasarnya perkembangan media dalam suatu masa mempengaruhi masyarakat.  Secara umum, terdapat empat era dalam perkembangan media era tersebut antara lain, yang pertama adalah Era Tribal. Pada era ini ditandai dengan tradisi lisan “pencerita” dalam mewariskan dan menyebarkan tradisi, ritual dan nilai-nilai. Konsep bahasa lisan menyebabkan era ini  mengutamakan penggunaan alat indera manusia. Era ini dapat dikatakan budaya berpusat pada pendengaran. Yang kedua ,Era Literasi. Era ini diawali dengan memperkenalkan alfabet. McLuhan dan Fiore (1986) berpandangan bahwa dengan diperkenalkannya alfabet, manusia akan mulai dapat melihat lingkungan secara visual dan spasial. Era ketiga adalah Era Cetakan. Era ini diawali dengan penemuan mesin cetak, menjadi awal dari revolusi industri. Dengan teknologi dimungkinkan dapat memperbanyak esay. Era berikutnya adalah Era Elektronik, Era ini diawali dengan penemuan alat elektronik seperti telegram, telepon, mesin ketik, radio dan televisi. Masa ini menjadikan manusia kembali pada masa tradisi lisan. Namun perbedaanya terdapat pada cara manusia berbicara.


Catatan Kritis
Ekologi Media McLuhan disambut dengan antusias. Beberapa penulis menggunakan isu dan konsep teoretis McLuhan dalam penelitian mereka, tetapi integrasi ekstensif dari karya McLuhan belum muncul secara signifikan dalam keilmuan. Karya McLuhan merepresentasikan pemikiran asli dan intelektual multisisi yang telah menjadi bagian dari warisan kita. Ia merupakan figur penting dalam pemahaman kita akan budaya, media, dan komunikasi akan tetapi nilai heuristik dari Teori Ekologi Media agak terbatas. Teori Ekologi Media banyak konsepnya sulit dipahami, sehingga kemungkinan pengujian teori ini menjadi hal yang menantang dan hampir tidak mungkin. Teori ini terlalu optimis mengenai peranan teknologi dalam masyarakat. McLuhan gagal mendefinisikan kata-katanya dengan hati-hati dan ia terlalu banyak menggunakan istilah yang dilebih-lebihkan.

 Penerapan
Teori Ekologi media karya McLuhan sebenarnya masuk ke dalam berbagai interaksi. Salah satunya adalah di dalam komunikasi antarpersonal, dan antarbudaya. Yang dimana McLuhan menyebutkan, perilaku individu dan lingkunganya berbeda karena dipengaruhi oleh medium atau alat dari media itu. Media mempunyai kekuatan membentuk opini masyarakat, orang menggunakan media untuk memperoleh kekuatan politik dan ekonomi dan bahkan mengubah susunan sosial dari sebuah masyarakat, media terdapat di dalam diri mereka untuk mengendalikan ide di dalam sebuah masyarakat.

Contoh Kasus
Salah satu contoh kasus dalam teori ini adalah tentang kepemilikan HandPhone pada setiap orang. Si Ahmad adalah seseorang yang tidak bisa lepas dari yang namanya HP. Setiap hari selalu memegang Hp. Sampai saat si Ahmad sedang ada kuliah, dan ternyata peraturan itu tidak boleh menggunakan HP. Tiba-tiba HP yang berada di saku celana berbunyi dan bergetar. Seakan-akan notifikasi atau pemberitahuan tersebut begitu penting. Saat HP terasa bergetar di saku celana, perasaan Ahmad sangat bangga. Dari sini lah medium yang akan memengaruhi konsep, dan perbuatan seseorang.