Rabu, 15 November 2017

aplikasi teori Psikologi Komunikasi

1.      Contoh berita yang berkaitan dengan teori psikoanalisis

Polisi masih menyelidiki kasus mutilasi bayi yang diduga dilakukan ibu kandungnya di perumahan mewah, The Gading Residence, Blok B-5-S Nomor 9, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Seperti ditayangkan Liputan6 Petang SCTV, Rabu (20/10/2017), di rumah inilah petugas Polsek Kelapa Gading menemukan potongan-potongan tubuh bayi dalam septic tank yang berada di teras rumah tersangka. Kasus mutilasi ini terbongkar berkat kecurigaan seorang kuli bangunan yang kala itu curiga melihat sesosok bayi terbungkus selimut di atas loteng.Lantaran panik kepergok pekerja bangunan yang tengah merenovasi rumah, Yuni, asisten rumah tangga (ART) di keluarga itu lalu membuang bayi tersebut ke kloset kamar mandi sang majikan. Tindakan sadis tersebut diakuinya karena takut aibnya terbongkar.Atas perbuatannya, Yuni kini ditetapkan tersangka dan mendekam di tahanan Polsek Kelapa Gading. Petugas berencana memeriksakan kondisi kejiwaan tersangka ke rumah sakit untuk mengetahui motif pembunuhan. ( sumber : Liputan6.com )
Psikoanalisa merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang berpandangan bahwa manusia lahir telah membawa warisan ( kecerdasan, libido seksual, dan dorogan perilaku yang berorientasi pada kesenangan) dari orangtua yang melahirkan. Dari hal ini psikoanalisa dapat digolongkan dalam aliran nativisme lawan dari empirisme yang beranggapan manusia lahir bagai kertas putih tanpa membawa warisan.
Aliran Psikoanalisa yang dipelopori oleh Sigmund Freud ini beranggapan bahwa struktur kepribadian terdiri dari Id ( dorongan, nafsu, dan libido sex) id merupakan struktur dasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuan pemenuhan kepuasan yang segera. Ego(diri), berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego(nilai) merefleksikan nilai sosial yang menyadarkan individu atas moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum dengan menimbulkan rasa salah

           

            Kasus diatas jika dikaitkan dengan teori psikoanalisa dilihat dari Idm atau sebuah dorongan nafsu ibu kandung yang tega membunuh anaknya sendiri. Sehingga muncul ego atau sebuah tindakan. Tindakan yang terlihat dari kasus ini adalah seorang ibu kandung yaang tega membunuh bayinya yang bekerjasama dengan asisten rumah tangganya. Setelah melakukan pembunuhan, yuni ( ART) langsung membuang jasad tubuh bayi kedalam kloset kamar mandi sang majikan. Tetapi hal itu terbongkar oleh kuli bangunan yang sedang melakukan renovasi rumah, sehingga pelaku pembunuhan dilaporkan ke polsek kelapa gading dan mereka pun harus mendekam di penjara, yang kita bisa sebut sebagai superego atau nilai-nilai, dan jika melanggar nilai akan mendapatkan hukuman agar memiliki rasa salah.

2.      Contoh berita yang berkaitan dengan teori humanistik
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendymengatakan penyebaran Kartu Indonesia Pintar (KIP) di masa kepemimpinannya telah mencapai 80 persen."KIP yang sudah di tangan siswa (sebelum Muhadjir memimpin) sekitar 22 persen. Untuk sekarang, Alhamdulilah sudah lebih dari 80 persen. Sekitar 70 persen lebih yang terealisasi," ujar Muhadjir Effendydalam wawancara khusus bersama Liputan6.com. Pada 2017, ada 20,3 juta siswa ditargetkan menjadi penerima KIP. Selain mengejar pencapaian target penyebaran KIP hingga 100 persen, Muhadjir mengatakan pihaknya sedang membenahi sistem pencairan dana KIP untuk mencegah kebocoran dan penggunaannya lebih tepat sasaran."Kita sedang mau membenahi sistemnya lebih lanjut terutama dalam pencairan dana. Tujuannya bagaimana agar lebih tepat sasaran, tidak bocor," Muhadjir menandaskan.
Presiden Jokowi dalam setiap blusukannya ke daerah gencar membagikan KIP kepada warga. Terakhir, Jokowi menyerahkan Kartu Indonesia Pintar kepada 3.317 pelajar di Banyumas, Jawa Tengah. Penyerahan dilakukan di SMA Negeri 2 Purwokerto. Dengan KIP ini, Jokowi ingin tidak ada lagi anak putus sekolah di Indonesia. Mereka yang sempat putus sekolah pun bisa melanjutkan melalui Kejar Paket A, B, dan C. Semua siswa akan mendapatkan KIP.
Kepada para pelajar tingkat SD, diberikan dana bantuan Rp 450 ribu per tahun. Untuk pelajar SMP, diberikan Rp 750 ribu. Sedangkan untuk tingkat SMA maupun SMK, diberikan dana bantuan Rp 1 juta. ( sumber : Liputan6.com )



\
            Menurut teori Humanistik, prosesd belajar harus ditujukan daan dimulai untuk kpentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori belajar ini sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi daripada bidang kajian psikologi belajar. Teori humanistik sangat mementingkan isi yang dipelajari daripada proses beelajar itu sendiri serta lebih banyak berbicara tentang kosep pendidikan untuk membentuk manusia yang diharapkan. Faktor motivasi dan pengalaman emosional sangat penting dalam peristiwa belajar, sebab motivasi dan keinginan dari pihak si belajar, maka tidak akan terjadi asimilasi pengetahuaan baru kedalam struktur kognitif yang telah dimilikinya. Teori humanistik berpendapat bahwa teori belajar apapun dapat dimanfaatkan sala tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu menciptakan aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realitas diri orang belajar secara optimal
            Berdasarkan contoh berita diatas Presiden Jokowi bersama kementerian pendidikan membagikan KIP ( Kartu Indonesia Pintar ) yang bertujuan untuk memotivasi anak anak. Sasaran pembagian KIP ini adalah anak SD/sederajat hingga SMA/sederajat. Dengan adanya bantuan dana KIP ini pemerintah berharap akan menjadi pacuan dan motivasi bagi keuarga tidak mampu agar terus melanjutkan sekolah dan belajar. Karena dalam teori humanistik faktor motivasi sangat memengaruhi peristiwa belajar seseorang.

3.      Contoh berita yang berkaaitan dengan teori kognisi sosial
Program konversi energi dari minyak tanah ke gas LPG semestinya menjadi solusi pengurangan beban subsidi pemerintah yang sangat bagus, sehingga dengan program tersebut akan didapatkan penghematan anggaran pemerintah yang sangat signifikan, selain itu juga menambahkan kemudahan kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan energi untuk urusan dapurnya. Namun sungguh ironis hampir setiap hari kita menyaksikan di TV terjadinya kebakaran akibat tabung gas LPG yang meledak, yang kian hari korbannya kian bertambah. Dan jumlah korbannya menurut sumber Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) adalah sampai september 2017 terjadi 33 kasus, 8 orang meninggal dan 44 orang luka-luka. Tahun 2016  terjadi 30 kasus, 12 orang meninggal dan 48 oarng luka-luka. Tahun 2008 terjadi 27 kasus, 2 orang meninggal dan 35 oarng luka-luka. Dan tahun 2014 saat program konversi energi ini dimulai terjadi 5 kasus dan mengakibatkan 4 orang luka-luka.
Dari uraian tersebut di atas dan kejadian serta korbannya menunjukkan tren terus meningkat. Pemerintahkah sebagai pengambil keputusan yang salah dalam pengambil kebijakan konversi energy ini,  Atau karena terjadinya akibat human error, Memang tidak sepatutnya kita mencari siapa yang salah namun alangkah baiknya kalau intropeksi diri demi perbaikan sekarang dan yang akan datang yang dikedepankan dalam menyikapi masalah ini.
Kejadian di masyarakat yang kita saksikan selama ini adalah saling menuding mencari siapa yang salah tanpa mengambil bagaimana solusi yang terbaik. Memang kebijakan pemerintah yang baik, tanpa dilakukan sosialisasi yang tepat dan intens dalam artian sosialisasi sampai pada masyarakat di tingkat lapisan bawah, maka kebijakan yang semula bertujuan sangat mulia tersebut itu akan dengan mudah terhapus atas kejadian-kejadian merebaknya tabung gas LPG meledak yang terjadi hampir tiap hari di berbagai daerah di tanah air tercinta ini. Sepertinya kebijakan konversi energi dari minyak tanah ke gas LPG ini tanpa mempertimbangkan aspek sosiolagis dan historis dari masyarakat. Hal ini didasarkan tanpa adanya sosialisasi yang intens dan tidak mempertimbangkan aspek historis bahwa masyarakat kita mayoritas belum mengenal akan teknologi baru berupa gas LPG.
Ini tampak terlihat bahwa ketiadaan kesiapan pemerintah perihal perubahan sosial yang direncanakan melalui pembuatan kebijakan konversi energi dari minyak tanah ke gas LPG ini, yang kemudian pada implementasikan menimbulkan dampak problemetik yang cukup serius. Pemerintah sendiri tidak siap menanggung akibat dari ledakan tabung LPG, ini ditandai dengan tidak sigapnya pemerintah dalam menangani korban ledakan.
Kebijakan yang tanpa mempertimbangan aspek sosiologis dan historis masyarakat, akan berpotensi menimbulkan masalah. Masyarakat kita sudah puluhan tahun hidup dengan minyak tanah dan bahan bakar kayu, secara tiba-tiba dipaksa untuk beralih teknologi, yang teknologi baru tersebut sebelumnya belum pernah diketahui apalagi dipahami. ( sumber : Kompasiana.com )
Jika dihubungkan dengan kognisi sosial, maka kasus ini berhubungan dengan heuristik ketersediaan (availability heuristic), yaitu sebuah strategi untuk membuat keputusan berdasarkan seberapa mudah suatu informasi yang spesifik dapat dimunculkan dalam pikiran kita. Dalam kasus tersebut, tertulis kejadian kebakaran akibat tabung gas LPG yang meledak, kian hari korbannya kian bertambah. Menurut sumber Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) adalah sampai september 2017 terjadi 33 kasus, 8 orang meninggal dan 44 orang luka-luka. Tahun 2016 terjadi 30 kasus, 12 orang meninggal dan 48 oarng luka-luka.
            Melalui pemberitaan tersebut, masyarakat mengalami efek dari meningkatnya ketersediaan, yaitu pemaparan awal. Pemaparan awal adalah peningkatan ketersediaan informasi sebagai akibat dari pemaparan suatu rangsangan atau peristiwa tertentu. Maka, hal tersebut akan berpengaruh pada keputusan atau penilaian yang akan dibuat oleh masyarakat.

4.      Contoh berita yang berkaitan dengan teori atribusi
Presiden Joko Widodo mengunjungi festival musik We The Fest 2017 di Kemayoran, Jakarta Pusat. Jokowi mengenakan kaus saat menonton konser itu. Pantauan detikcom di JI-Expo Kemayoran, Jumat (11/8), Jokowi mengenakan kaus berwarna abu-abu dengan dikawal Paspampres. Selain itu, Jokowi diajak berfoto dengan para pengunjung konser tersebut.Jokowi mengaku hanya berkunjung ke festival tersebut untuk melihat musik. Jokowi ingin melihat para musisi yang tampil di panggung konser musik tersebut."Ya, saya ingin melihat tren saja. Kalau saya kan penginnya metal, tapi tadi saya lihat kayak Shura, ya baguslah," kata Jokowi di lokasi. Jokowi menyebutkan baru pertama kali mengunjungi konser musik tersebut. Karena itu, ia ingin melihat dan menikmati konser. "Saya mau lihat-lihat dulu, ini pertama kali saya ke sini," ucap Jokowi.Sebelumnya, Jokowi menghadiri Silaturahmi Nasional II relawannya di JI-Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (11/8/2017). Acara baru selesai sekitar pukul 21.00 WIB. Jokowi kemudian pulang menuju Istana Bogor, Jawa Barat. Tapi tiba-tiba Jokowi putar balik ke JI-Expo. ( sumber : detiknews.com)
Atribusi adalah memperkirakan apa yang menyebabkan orang lain itu berperilaku tertentu. Menurut Myers (1996), kecenderungan memberi atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu, termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain. Attribution theory (teori sifat) merupakan posisi tanpa perlu disadari pada saat melakukan sesuatu menyebabkan orang-orang yang sedang menjalani sejumlah tes bisa memastikan apakah perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan orang lain dapat merefleksikan sifat-sifat karakteristik yang tersembunyi dalam dirinya, atau hanya berupa reaksi-reaksi yang dipaksakan terhadap situasi tertentu. Atribusi adalah sebuah teori yang membahas tentang upaya-upaya yang dilakukan untuk memahami penyebab-penyebab perilaku kita dan orang lain. Definisi formalnya, atribusi berarti upaya untuk memahami penyebab di balik perilaku orang lain, dan dalam beberapa kasus juga penyebab di balik perilaku kita sendiri Sementara menurut Weiner (Weiner, 1980, 1992) attribution theory is probably the most influential contemporary theory with implications for academic motivation. Artinya Atribusi adalah teori kontemporer yang paling berpengaruh dengan implikasi untuk motivasi akademik. Hal ini dapat diartikan bahwa teori ini mencakup modifikasi perilaku dalam arti bahwa ia menekankan gagasan bahwa peserta didik sangat termotivasi dengan hasil yang menyenangkan untuk dapat merasa baik tentang diri mereka sendiri. Teori yang dikembangkan oleh Bernard Weiner ini merupakan gabungan dari dua bidang minat utama dalam teori psikologi yakni motivasi dan penelitian atribusi.Teori yang diawali dengan motivasi, seperti halnya teori belajar dikembangkan terutama dari pandangan stimulus-respons yang cukup popular dari pertengahan 1930-an sampai 1950-an.
Jika dikaitkan dengan berita diatas, kita tahu baha presiden jokowi sangat menyukai musik, salah satunya adalah muscik metalica. Tetapi Presiden jokowi kerap melihat dan mendengarkan genre lainnya. Presiden Jokowi menyukai music bergenre metal, tidak seperti pejabat lain. Ini menunjukkan bahwa Presiden memiliki konsensus yang rendah. Presiden Jokowi menyukai music ini bukan hanya di konser musik, tetapi hari-hari lain seperti waktu kosong, beliau juga hobi mendengarkan musik metal. Ini menunjukkan bahwa Kenzo memiliki konsistensi yang tinggi. Di konser musik itu, bukan hanya musik bergenre meta yang Presiden nikmati, namun musik-musik yang lainnya juga. Ini menunjukkan bahwa Presiden Jokowi  memiliki distinctiveness yang rendah.


Symbols Are Arbitrary


A.    Pengertian Bahasa, dan simbol
Bahasa adalah alat komunikasi yang berupa sistem lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Sebagaimana kita ketahui, bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau sarana untuk menyampaikan informasi. Tetapi bahasa pada dasarnya lebih ssekedar alat untuk menyampaikan informasi, atau mengutarakan pikiran, perasaan, gagasan. Karena pada intinya bahasa juga memilikin fungsi, sebagai berikut :
a.       Mengadakan hubungan dalam kehidupan.
b.      Menimbulkan rasa estetis manusia. Maksudnya adalah manusia mengolah dan menggunaan bahasa dengan seindah-indahnya.
c.       Mempelajari pengetahuan lain diluar pengetahuan kebahasaan.
Simbol adalah gambar yang digunakan untuk mendukung teks, membuat makna yang lebih jelas, dan lebih mudah untuk dipahami. Kata simbol dalam bahasa latin yaitu symbolium, dalam bahasa inggria symbol. Kata simbol berasal dari bahasa yunani yaitu symbolon (symballo) yang berarti bermakna, memberi kesan atau menarik kesimpulan. Kata simbol ini memiliki beberapa pengertian yaitu sebagai berikut:
  1. Simbol adalah sesuatu yang biasanya merupakan tanda yang terlihat untuk menggantikan gagasan atau objek tertentu
  2. Tanda konvensional yaitu sesuatu yang dibangun masyarakat atau seseorang dengan arti tertentu yang sebelumnya sudah disepakati oleh masyarakat. Arti simbol dalam konteks ini sering berlawanan dengan tanda alamiah
  3. Sesuatu yang diberikan arti dengan persetujuan umum dan atau dengan kesepakatan atau kebiasaan. Misalnya lampu lalu lintas
  4. Tanda atau isyarat, yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang lain seperti arti, kualitas, gagasan dan objek
Kata simbol ini memiliki beberapa pengertian yaitu sebagai berikut:
  1. Simbol adalah sesuatu yang biasanya merupakan tanda yang terlihat untuk menggantikan gagasan atau objek tertentu
  2. Tanda konvensional yaitu sesuatu yang dibangun masyarakat atau seseorang dengan arti tertentu yang sebelumnya sudah disepakati oleh masyarakat. Arti simbol dalam konteks ini sering berlawanan dengan tanda alamiah
  3. Sesuatu yang diberikan arti dengan persetujuan umum dan atau dengan kesepakatan atau kebiasaan. Misalnya lampu lalu lintas
  4. Tanda atau isyarat, yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang lain seperti arti, kualitas, gagasan dan objek
B.     Symbols Are Arbitrary
Kata Arbitrer mengandung arti manasuka. Tetapi istilah arbitrer disini adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa, atau simbol dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang ( Charer 1994:45). Yang dimaksud dengan arbitrer adalah tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkan. Dengan kata lain, hubungan antara bahasa dan wujud bendanya hanya didasarkan pada kesepakatan antara penurut bahasa di dalam masyarakat bahasa yang bersangkutan. Maksudnya masing-masing bahasa terbentuk tidak berdasarkan sistem dan proses yang baku dan sama. Proses pembentukan istilah dalam suatu bahasa atau simbol ada kalanya melalui proses pengambilan bunyi , proses gabungan istilah sehingga melahirkan istilah baru atau bahkan proses yang tidak diketahui prosesnya. Ke-arbitreran bahasa tidak sepenuhnya liar, konsep terserah yang terkandung dalam sebuah bahasa dibatasi dengan konsep konvensionalatau kesepakatan bersama. Yang dimaksud konvensional adalah menjadi kesepaktan bersama , memiliki konsep sama tentang istilah tersebutMisalnya adalah lambang bahasa yang berwujud bunyi kuda, dengan rujukannya yaitu seekor binatang berkaki empat yang bisa dikendarai, tidak ada hubungannya sama sekali, tidak ada ciri alamiahnya sedikitpun
Ferdinand de Saussure (1966:67) dalam dikotominya membedakan apa yang disebut signifiant (Inggris: signifier) dan signifie (Inggris: signified). Signifiant adalah lambang bunyi iyu, sedangkan signifie adalah konsep yang dikandung oleh signifiant. Dalam peristilahan Indonesia dewasa ini ada digunakan istilah penanda untuk lambang bunyi atau signifiant dan istilah petanda untuk konsep yang dikandungnya, atau diwakili oleh penanda tersebut. Hubungan antara signifiant dan signifie itulah yang bersifat arbitrer. Lambang yang berupa bunyi itu tidak memberi “saran” atau “petunjuk” apapun untuk mengenal konsep yang diwakilinya. Tidak adanya hubungan antara signifiant dan signifie menyebabkan Bolinger (1975:22) mengatakan: Seandainya ada hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya itu, maka seseorang yang tidak tahu suatu bahasa tertentu akan dapat menebak makna sebuah kata apabila dia mendengar kata itu diucapkan. Kenyataannya, kita tidak bisa menebak makna sebuah kata dari bahasa apapun (termasuk bahasa sendiri) yang belum pernah kita dengar karena bunyi kata tersebut tidak memberi “saran” atau “petunjuk” apapun untuk mengetahui maknanya.
Apabila ada hubungan wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya, tentu lambang yang dalam bahasa Indonesia berbunyi [kuda], akan disebut juga [kuda] oleh orang di klaten, bukannya [jaran]. Di Inggris orang juga akan menyebut [kuda] dan bukannya <horse>; begitu juga di negara lain. Lalu andaikata ada hubungan wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya maka di bumi ini tidak akan ada bermacam-macam bahasa. Tentu hanya ada satu bahasa yang meskipun mungkin berbeda tetapi perbedaannya tidak terlalu banyak.
            Memang ada juga yang berpendapat bahwa ada sejumlah kata dalam bahasa apapun yang lambangnya berasal dari bunyi benda yang diwakilinya. Misalnya lambang [meong] dalam bahasa Indonesia, yang mempunyai hubungan dengan konsep yang dilambangkannya, yaitu sejenis binatang buas yang bunyinya [meong]; atau lambang bunyi [cecak] yang mempunyau hubungan dengan konsep yang dilambangkannya, yaitu sejenis reptil yang bunyinya [cak, cak, cak]. Jadi, di sini kata-kata yang disebut onomatope (kata yang berasal dari tiruan bunyi) ini lambangnya memberi “saran” atau “petunjuk” bagi konsep yang dilambangkannya. Kalau begitu dapat dikatakan hubungan antara lambang dengan konsep yang dilambangkannya tidak bersifat arbitrer. Karena paling tidak ada “saran” bunyi yang menyatakan hubungan itu.Namun kalau diteliti lebih jauh, yang disebut onomatope ini pun ternyata tidak persis sama antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain. Bunyi ayam jantan yang dalam bahasa Indonesia dan dialek Jakarta berbunyi [kukuruyuk] ternyata dalam bahasa Sunda berbunyi [kongkorongok].

Manasuka atau arbiter adalah acak, bisa muncul tanpa alasan. Kata-kata (sebagai simbol) dalam bahasa bisa muncul tanpa hubungan logis dengan yang disimbolkannya. Mengapa makanan khas yang berasal dari Garut itu disebut dodol bukan dedel atau dudul ? Mengapa binatang panjang kecil berlendir itu kita sebut cacing ? Mengapa tumbuhan kecil itu disebut rumput, tetapi mengapa dalam bahasa Sunda disebut jukut, lalu dalam bahasa Jawa dinamai suket ? Tidak adanya alasan kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas atau yang sejenis dengan pertanyaan tersebut. Bukti-bukti di atas menjadi bukti bahwa bahasa memiliki sifat arbitrer, mana suka, atau acak semaunya. Pemilihan bunyi dan kata dalam hal ini benar-benar sangat bergantung pada konvensi atau kesepakatan pemakai bahasanya. Orang Sunda menamai suatu jenis buah dengan sebutan cau, itu terserah komunitas orang Sunda, biarlah orang Jawa menamakannya gedang, atau orang Betawi menyebutnya pisang. 9 Ada memang kata-kata tertentu yang bisa dihubungkan secara logis dengan benda yang dirujuknya seperti kata berkokok untuk bunyi ayam, menggelegar untuk menamai bunyi halilintar, atau mencicit untuk bunyi tikus. Akan tetapi, fenomena seperti itu hanya sebagtian kecil dari keselurahan kosakata dalam suatu bahasa.



Daftar Pustaka

Journal Arbitrer, Vol. 1 No. 1 Oktober 2013 48 LANGUAGE EMPOWERING IN CHARACTER BUILDING (PEMBERDAYAAN BAHASA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER)

Kamus Besar Bahasa Indonesia .2008. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional

Koentjaraningrat.1992. Bahasa dan Budaya. Makalah dalam Bulan Bahasa dan Sastra IKIP Jakarta.

Lilweri, Alo. 1991. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: Citra Aditya Bakti


Analisis Pihak Eksternal dan Internal Perusahaan PT.Tambi Tanjungsari Kabupaten Wonosobo

A.    Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara agraris. Keadaan tanah Indonesia yang subur merupakan hal yang sangat potensial jika wilayah Indonesia dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan perkebunan. Salah satu lahan perkebunan yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut adalah perkebunan teh. Teh merupakan salah satu produk industri pertanian yang berpotensi besar untuk dijadikan sebagai sumber devisa negara karena teh merupakan salah satu komoditas ekspor yang menjanjikan. Tingkat produksi teh di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 120.000 ton per tahun atau memenuhi sekitar 5,8% kebutuhan dunia dengan luas kebun 148.000 Ha. Dari data Asosiasi Teh Indonesia (ATI), teh menyumbangkan devisa negara hingga 110.000.000 Dollar per tahun. Tingkat konsumsi teh dunia yang semakin meningkat merupakan nilai lebih yang di miliki oleh negara-negara produsen seperti Indonesia. Perkebunan teh merupakan salah satu aspek dari sektor pertanian yang menguntungkan di Indonesia, mengingat letak geografisnya yang strategis. Kebutuhan dunia akan komoditas perkebunan sangat besar khususnya teh. Teh merupakan minuman penyegar yang disukai hampir seluruh penduduk di dunia. Bahkan minuman teh telah dijadikan minuman sehari-hari. Produk teh di Indonesia terdiri dari tiga macam yaitu teh hitam, teh hijau dan teh oolong. Perbedaan ketiga macam teh tersebut disebabkan oleh perbedaan cara pengolahan. Dalam proses pengolahan teh hitam memerlukan proses oksidasi enzimatis, teh hijau tidak memerlukan proses oksidasi enzimatis dan untuk teh oolong dalam pengolahannya mengalami proses semi fermentasi. PT. Perkebunan Tambi merupakan salah satu perusahaan pengolahan teh hitam yang cukup terkenal dan berkualitas. Hasil produksi teh di PT Perkebunan Tambi sebagian besar telah di export ke berbagai negara-negara 25 di dunia seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jepang, Jerman, Polandia, Inggris, Australia, Selandia Baru, Rusia, Irak dan Uni Emirat Arab. Seiring dengan perkembangan industri yang menuntut produsen untuk menghasilkan produk yang berkualitas, maka dengan pemberian jaminan mutu dari perusahaan terhadap produk sangat berpengaruh dalam menentukan pasar dan daya saing produk, hal itu mendorong penulis untuk mengetahui proses yang lebih lanjut dan teknologi yang di gunakan serta mengetahui sistem sanitasi dalam pengolahan teh hitam di PT Perkebunan Tambi.




B.     Sejarah Perusahaan PT. Tambi Tanjungsari

Seperti halnya perkebunan teh lainnya, PT Perkebunan Tambi pada mulanya (tahun 1865) merupakan perusahaan perkebunan milik pemerintah Hindia Belanda yang disewakan kepada pengusaha-pengusaha swasta Belanda antara lain D. Vander Ships (untuk Unit Perkebunan Tanjungsari) dan W.D Jong (untuk Unit Perkebunan Tambi dan Bedakah). Perkebunan tersebut pada tahun 1880 dibeli oleh Mr. MP. Van Den Berg, A.W. Holle dan Ed Jacobson, yang kemudian bersama-sama mendirikan Bagelen Thee en Kina Maatschappij di Wonosobo, yang dalam pengurusan dan pengolahan perkebunan teh tersebut diserahkan kepada Firma John Peet & Co yang berkedudukan di Jakarta. Pada saat Jepang di Indonesia tahun 1942, kebun Bedakah, Tambi dan Tanjungsari dikuasai oleh Jepang. Tanaman teh pada umumnya tidak dirawat dan sebagian dibongkar untuk diganti tanaman lain seperti palawija, ubi-ubian, dan jarak. 35 Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, kebun Bedakah, Tambi dan Tanjungsari secara otomatis diambil alih oleh negara Republik Indonesia dan berada di bawah Pusat Perkebunan Negara (PPN) yang berpusat di Surakarta. Kantor perkebunan daerah Bedakah, Tambi dan Tanjungsari dipusatkan di Magelang Jawa Tengah. Berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Belanda pada November 1949 maka perusahaan-perusahaan asing yang berada di Indonesia yang sebelumnya sudah diakui sebagai milik negara harus diserahkan kembali kepada pemilik semula. Sesuai hasil KMB maka perkebunan Bedakah, Tambi dan Tanjungsari harus diserahkan kembali oleh pemerintah Indonesia ke pemilik semula, yaitu Bagelen Thee Kina Maatschappij. Setelah diadakan koordinasi antara ketiga pengelola kebun tersebut, kemudian para eks pegawai PPN membentuk kantor bersama yang dinamakan Perkebunan Gunung pada tanggal 21 Mei 1951. Setelah beberapa tahun Perkebunan Gunung mengelola ketiga kebun itu, Bagelen Thee Kina Maatschaapij tidak berniat untuk melanjutkan usahanya dan merasa terlalu sulit untuk mengurus perkebunan yang kondisinya sudah sangat memburuk (akibat revolusi fisik antara Indonesia dengan Belanda). Oleh Bapak Imam Soepono, SH selaku Kepala Jawatan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah mengusahakan agar pihak Bagelen Thee en Kina Maatschappij di serahkan ke Indonesia. Hal tersebut di terima baik oleh Bagelen Thee en Kina Maatschappij. Selanjutnya di dirikan PT oleh pegawai PPN yang diberi nama Perseroan Terbatas (PT) NV exs PPN Sindoro Sumbing pada tanggal 17 Mei 1954. Perjanjian jual beli antara NV Bagelen Thee en Kina Maatschappij dengan PT NV exs PPN Sindoro Sumbing terjadi tanggal 26 November 1954, sehingga status perkebunan Bedakah, Tambi dan Tanjungsari resmi dalam penguasaan PT NV ex PPN Sindoro Sumbing. Tahun 1957, tercapai kesepakatan bersama antara Pemerintah Daerah (Pemda) Wonosobo dan PT NV exs PPN Sindoro Sumbing untuk bersama-sama mengelola perkebunan tersebut, dengan bentuk perusahaan baru yang modalnya 50% dari Pemda Wonosobo dan 50% dari PT NV exs Sindoro Sumbing. Guna merealisasi tujuan tersebut maka dibentuklah suatu perusahaan baru dengan nama Perseroan Terbatas (PT) NV Perusahaan Perkebunan Tambi, disingkat PT NV Tambi (saat ini PT Perkebunan Tambi) dengan akte notaris Raden Sujadi di Magelang 13 Agustus 1957 No. 10 serta mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman tanggal 18 April 1958, No. JA 5/30/25 yang kemudian diterbitkan pada lembaran Berita Negara tanggal 12 Agustus 1960 No. 65. Perbedaan PT Tambi dengan perkebunan lain yaitu lahan atau kebun milik PT Tambi tersebar dalam tiga wilayah yang berjauhan, maka untuk menghemat biaya transportasi PT Tambi membangun 3 pengolahan teh, yaitu Unit Perkebunan (UP) Bedakah, UP Tambi dan UP Tanjungsari. Namun sejak tahun 1981 UP Tanjungsari tidak mengolah sendiri dan pucuknya diolah di UP Bedakah dan UP Tambi. Dengan pertimbangan untuk memudahkan kordinasi antara unit perkebunan dan memudahkan hubungan kerja sama dengan para relasi perusahaan, maka Kantor Direksi dibangun di pusat kota Wonosobo, tepatnya di jalan Tumenggung Jogonegoro No. 39, dan tiap-tiap unit perkebunan ditempatkan kantor perwakilan yang mempunyai hak otonomi untuk mengurus rumah tangga unit perkebunan sendiri.

C.     Visi, dan Misi Perusahaan

Visi Perusahaan : Mewujudkan perusahaan perkebunan teh yang berproduktivitas tinggi, ramah lingkungan, kualitas sesuai dengan selera konsumen, kokoh dan lestari

Misi Perusahaan : Mendorong pertumbuhan ekonomi dalam rangka pendapatan pajak dan devisa bagi negara, pelestarian alam dan penyerapan tenaga kerja.

D.      Struktur Organisasi Internal
Suatu organisasi dapat berjalan dengan baik apabila ada bentuk pengaturan wewenang dan tanggung jawab dalam organisasi yang dituangkan dalam bagan yang di dalamnya menggambarkan jabatan dan wewenang seorang karyawan dengan karyawan lainnya dalam keseluruhan organisasi perusahaan. Unit Perkebunan Tambi merupakan salah satu unit produksi dari PT Perkebunan Tambi yang mengelola perkebunan dan pengolahan komoditas teh. Dalam pelaksanaan kerja di UP Tambi dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu:
a.       Bagian kebun, yang tugasnya adalah mengusahakan produksi pucuk sebagai bahan baku teh seoptimal mungkin dengan segala aspek pekerjaan pendukungnya.
b.       Bagian pabrik, yang tugasnya mengelola hasil dari bagian kebun menjadi teh siap jual sesuai dengan petunjuk dari Direksi atau pemasaran.
c.        Bagian kantor, tugasnya adalah malaksanakan pekerjaan administrasi dan masalah perkantoran lainnya sebagai bagian dari kegiatan suatu usaha.
Berdasarkan struktur organisasi tersebut dapat dilihat bahwa UP Tambi dipimpin oleh seorang pemimpin UP, dengan urutan sebagai berikut:
a.       Direktur Utama
b.       Direktur
c.       Kepala Departemen
d.      Pemimpin Unit Perkebunan
1.        Kepala Bagian Kebun
2.       Kepala Bagian Pabrik
3.       Kepala Bagian Kantor

PT Perkebunan Tambi dipimpin oleh seorang Direktur Utama sedangkan Unit Perkebunan Tambi dipimpin oleh Pemimpin Unit Perkebunan. Dalam menjalankan tugasnya Pemimpin Unit Perkebunan dibantu oleh Kepala Bagian Kebun, Kepala Bagian Pabrik dan Kepala Bagian Kantor. Masing-masing memiliki tugas dan wewenang yang harus dijalankan sebaik-baiknya. Penjabaran tugas dan wewenang dari masingmasing anggota pada struktur organisasi PT Perkebunan Tambi sebagai berikut :
a.       Pemimpin Unit Perkebunan
Pemimpin Unit Perkebunan merupakan kepala perkebunan yang bertanggung jawab secara langsung kepada Direksi PT Perkebunan Tambi, serta membawahi Kepala Bagian Kebun, Pabrik dan Kantor. Tugas Pimpinan Unit Perkebunana yaitu memimpin, merencanakan, mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas sebagai Pemimpin Unit Perkebunan termasuk dalam kegiatan pengelolaan kebun, pabrik, kantor dan kegiatan perusahaan lainnya serta kegiatan lain yang berkaitan dengan jabatannya sebagai Pemimpin Unit Perkebunan dalam rangka mendukung usaha perusahaan dalam mencapai tujuan efektif dan efisiensi.
b.      Kepala Bagian Kebun
Kepala Bagian Kebun bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Unit Perkebunan, serta membawahi Asisten Kepala Bagian Kebun. Tugas Kepala Bagian Kebun yaitu memimpin, merencanakan, mengatur, mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas bagian kebun Unit Perkebunan termasuk dalam kegiatan pengelolaan kebun, lahan, dan kegiatan kebun lainnya, dalam rangka mendukung usaha perusahaan dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Kepala bagian kebun ini membawahi beberapa Kepala Blok dan bagian Administrasi Kebun.
1.       Kepala Blok bertugas menangani satu blok kebun dan membawahi Bagian Petik dan Bagian Pemeliharaan dalam blok tersebut. Bagian Petik adalah bagian yang bertanggungjawab dalam urusan pemetikan dan Bagian Pemeliharaan bertanggungjawab dalam urusan pemeliharaan tanaman dan kebun.
2.       Administrasi Kebun bertugas menangani masalah administrasi yang berhubungan dengan kebun dan produksi pucuk basah.
c.        Kepala Bagian Pabrik
 Kepala Bagian Pabrik bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Unit Perkebunan, serta membawahi Kepala Urusan Pengolahan, Kepala Seksi Teknik Pabrik dan Pelaksana Administrasi Pabrik. Tugas Kepala Bagian Pabrik yaitu memimpin, merencanakan, mengatur, mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas bagian pabrik Unit Pengolahan termasuk dalam kegiatan pengolahan hasil kebun dan kegiatan pabrik lainnya, dalam rangka mendukung usaha perusahaan dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Kepala bagian pabrik membawahi Kepala Urusan Pengolahan, Kepala Seksi Teknik dan Pelaksana Administrasi Pabrik.
1.        Kepala Urusan Pengolahan bertugas mengatur dan menangani proses pengolahan teh dan dibantu beberapa pembimbing tahapan proses pengolahan, yaitu
a.       Pembimbing Pelayuan yang menangani proses pelayuan dan mengatur serta mengawasi karyawan pelaksananya.
b.      Pembimbing Penggilingan yang menangani proses penggilingan dan fermentasi dan mengatur serta mengawasi karyawan pelaksananya
c.        Pembimbing Pengeringan yang menangani proses pengeringan dan mengatur serta mengawasi karyawan pelaksananya.
d.      Pembimbing Sortasi yang menangani proses sortasi dan mengatur serta mengawasi karyawan pelaksananya.
e.      Pembimbing Gudang yang menangani proses pengepakan dan pengemasan dan mengatur serta mengawasi karyawan pelaksananya. Pembimbing Gudang juga menangani masalah pengangkutan / transportasi pemasaran teh.
f.        Pembimbing Sanitasi yang menangani masalah sanitasi dalam proses pengolahan.
2.       Kepala Seksi Teknik bertugas menangani masalah teknis listrik, mesin dan bangunan yang dibantu oleh Bagian Teknik Listrik dan Mesin serta Bagian Teknik Bangunan. Bagian Teknik Listrik dan Mesin menangani masalah teknik listrik dan mesin, perawatan dan perbaikan mesin. Bagian Teknik Bangunan menangani masalah bangunan dan sanitasi bangunan.
3.       Pelaksanan Administrasi Pabrik bertugas melaksanakan administrasi yang berhubungan dengan proses produksi teh kering.
4.       Kepala Bagian Kantor,  Kepala Bagian kantor bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Unit Perkebunan. Serta membawahi Kepala Seksi Bendahara, Kepala Seksi Pembukuan dan Arsip, dan Kepala Seksi Keamanan. Tugas Kepala Bagian Kantor yaitu memimpin, merencanakan, mengatur, mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas kegiatan Kantor Unit Perkebunan termasuk dalam kegiatan pengelolaan keuangan Unit Perkebunan, pembukuan, pengarsipan, sumber daya manusia dan masalah umum di Unit Perkebunan dan kegiatan kantor lainnya, dalam rangka mendukung usaha perusahaan dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
d.      Karyawan atau buruh
Tenaga kerja yang ada di UP Tambi di bagi menjadi tiga golongan yaitu karyawan I, karyawan II yang terdiri dari golongan II A, II B, II C, II D, II E dan karyawan borong (lepas)
E.       Struktur organisasi Eksternal

Sebagai produsen, PT Perkebunan Tambi melakukan kegiatan pemasaran teh hitam sebagai komoditinya. Teh hitam produksi PT Perkebunan Tambi sebagian besar dipasarkan untuk expot. Untuk expor sebanyak 70-80% sedangkan untuk pasar lokal sebanyak 20-30%. Adapun pangsa pasar yang dituju oleh PT Perkebunan Tambi adalah pangsa ekspor dan lokal.
1.       Pasar Expor (Perdagangan Luar Negri)
a.       Direct Export (Export langsung), dimana semua proses exportnya langsung berhubungan dengan pembeli atau agen pembeli di negara tujuan pembeli, demikian pula untuk seluruh pengurusan dokumen-dokumen pendukungnya. Pembeli yang termasuk ini antara lain :
- Hung An Trading Co.LTD, Hong Kong
- Iteaco, Kanada
- J. Fr. Scheibler GmbH & CO, Hamburg, Jerman.
b. Indirect Export (Export tidak langsung), yang meliputi Exporter dan Blender Exporter. Pihak ini lah yang langsung berhubungan dengan pembeli atau agen pembeli di negara tujuan pembeli, termasuk pengurusan dokumen-dokumen pendukungnya. Pembeli yang termasuk ini antara lain :
 - PT Unilever Indonesia TBK, Jakarta
- PT Trijasa Primasejati, Jakarta

2.       Pasar Lokal (Perdagangan Dalam Negri)
a.       Antar Daerah, hubungan dengan pembeli dilakukan secara langsung, dalam hal ini pembeli biasanya juga merangkap sebagai Packer ( mengemas kembali dengan merk-merk mereka sesuai standar yang mereka tetapkan sendiri) Pembeli yang termasuk ini antara lain :
- PT Gunung Subur, Karanganyar.
- CV Sejahtera Jaya, Jakarta.
 - PT Sariwangi, Bogor. xi xi
- PT Trijasa.
b. Selain pemasaran antar daerah, UP Tambi juga menjual teh eceran (kiloan) dan kemasan, dimana pemasarannya dilakukan melalui unit penjualan yang ada di PT Perkebunan Tambi. Unit penjualan ini melayani langsung kepada pembeli maupun penjualan melalui agen-agen yang telah terdaftar. Agen-agen yang ikut memasarkan produk teh Tambi antara lain : - Koperasi Prasojo, di Kantor Direksi.
 - Koperasi Gotong Royang, di UP Bedakah.
 - Koperasi Setia Kawan, di UP Tambi.
 - Koperasi Sederhana, di UP Tanjungsari.
- PT Rita Ritelindo,Wonosobo, Purwokerto.
- Toko Teh Tambi, Wonosobo.
- Toko Aneka, Wonosobo.
- Toko Anugrah, Semarang.
- Agrowisata Tambi, Wonosobo
 - Toko Varia

3.       Pemerintah
Pihak internal pemerintah yang berkaitan dengan PT.Tambi Tanjungsari adalah pemerintahan Kabupaten Wonosobo, dan pemerinah daerah Jawa Tengah

4.       Pers
Pers yang dimaksud dalam perusahaan ini adalah wonosobo ekspress, Harian Wonosobo, Suara Kedu, Wonosobozone.com , Pesona FM, Citra FM, dan lain sebagainya





Daftar Pustaka

Anonima .2010. ptperkebunantambi.com. diakses tanggal 6 November 2017 pukul 21.30 WIB.

Marganin, Dewi. 2010. Teh Tambi Wonosobo. Wonosobo:Independent



Shortpaper Lighting dalam Film




Teknik Lighting dalam Film

(*)

Menurut Turner ( 1999 ) ada beberapa perspektif film, yaitu cine semiology yang terdiri dari lighting, sound, kerja kamera, dan editing. Kemudia ada film narrative yang menitikberatkan pada film yang mengangkat cerita rakyat, serta ideology in the text atau adanya sebuah pertarungan ideologi yang memuat perspektif sosiologis, dan perspektif psikologis. Dalam hal ini, saya tertarik untuk membahas tentang lighting atau teknik pencahayaan dalam sebuah film. Menurut Graeme Turner, lighting atau tata lampu mempunyai dua fungsi. Yang pertama adalah fungsi ekspresif, yaitu menetapkan mood, atau memberi film sebuah penampilan tertentu, serta memberi kontribusi bagi cerita seperti karakter atau motivasi (1988:56). Penataan lampu yang dapat menghasilkan makna – melalui pembagian lampu yang tidak rata sehingga menghasilkan kontras – disebut low-key lighting. Fungsi yang kedua adalah realisme. Ini merupakan fungsi lighting yang paling banyak digunakan dan tidak kelihatan. Bila berhasil, tata lampu seperti ini akan menerangi karakter dan setting secara natural, sehingga penonton tidak menyadari kehadirannya, dan tidak merasakan lighting sebagai sebuah teknologi yang terpisah. Penggunaan lighting seperti ini disebut high-key lighting. Menurut saya pencahayaan adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam produksi film. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak dapat menyaksikan apa-apa karena gelap tak bisa dilihat. Cahaya merupakan gelombang elektromagnetis yang diterima oleh indera penglihat yang kemudia diteruskan ke otak untu merespon, menanggapi rangsang cahaya tersebut. Sederhananya, tanpa cahaya maka benda tidak akan terlihat, dari sinilah film memerlukan cahata agar subyek dapat terlihat.

(*)

Dalam teknik pencahayaan terdapat lima kategori pencahayaan yaitu, Downlight, uplight, backlight, sidelight, dan frontlight. Downlight adalah komponen pencahayaan yang arah pencahyaan datang dari atas, dan menyinari objek yang ada dibawahnya. Hampir setiap ruangan memerlukan pencahyaan downlight yang berfungsi sebagau pencahayaan merata. Cahaya berasal dari lampu yang ditanam pada langit rumah. Jenis lampu yang termauk lampu downlight adalah lampu pijar, neon, dan compact flourescent dengan sudut distribusi cahaya yang besar. Melalui pengaturan sudut jatuh cahaya, lampu dengan arah downlight dapat menumbuhkan suasana yang berbeda apabila difungsikan sebagai pencahayaan setempat dan dekoratif. Salah satu contoh yang banyak dipakai adalah wall wisher, yakni mengarahkn cahaya ke dinding sehingga tekstur dan warna dinding muncul dan lebih berdimensi Selanjutnya adalah uplight, uplight adalah komponen yang arah cahayanya datang dari bawah ke atas, dimana posisi lampu dihadapkan ke atas. Efek cahaya yang ditimbulkan yaitu kesan megah dan memunculkan dimensi. Jenis pencahayaan ini lebih cenderung ke pencahayaan dekoratif. Backlight adalah salah satu komponen pencahayaan yang arah cahayanga berasal dari belakang objek. Hal ini dilakukan untuk memberikan aksentuasi pada objek, misal untuk memunculkan siluet. Sedangkan pada objek pencahayaa backlight ini memberikan cahaya pinggir yang menarik perhatian, dan membentuk objek jadi terlihat lebih jelas. Forntlight adalah ketika arah cahaya datang dari depan objek, dan cahaya tersebut sebaiknya merata. Cahaya yang tersebar rata membuat objek terlihat apa adanya. Sidelight ini sebenarnya sama dengan backlight, sidelight ini dimaksudkan untuk memberikan penekanan pada elemen objek.
Secara sederhana ada dua jenis sumber pencahayaan yaitu original light atau pencahayaan alami yang bersumber dari matahari, dan buan. Kemudian ada artficial light atau pencahayaan buatan atau tiruan. Ada beberapa tujuan pencahayaan yaitu untuk memperoleh atmosfir yang diinginkan dalam menunjukan kesan, mendapatkan gambar yang sesuai dengan rencana produksi, memengaruhi emosi penonton, dan mendapatkan gambar sesuai warna aslinya. Sering kita sebut “Three Points Of Light” atau rumusan dasar sebuah pencahyaan dalam produksi film. Ketiga point penting tersebut adalah keylight, fill Light, dan Backlight. Key light disini menjadi penyinaran utama yang jatuh pada sebuah objek dan akan menghasilkan bayangan kuat. Fill Light adalah sebuah penyinaran yang bertujuan untuk melunakan bayangan yang dihasilkan keylight. Back Light yaitu penyinaran dari belakang subyek yang mengenai kepala dan bahu serta membentuk garis tepi dari subyek, dasar ini berfungsi untuk memberikan dimensi agar subyek tidak menyatu dengan latarbelakang. Selain tiga poin pencahayaan tadi masih ada jenis pencahayaan lainnya, yakni background light dimaksudkan agar setting/panggung tetap bisa terlihat dengan baik. Selain background light terdapat rim light, dan kicker light. Rim light bertujuan untuk menerangi objek disamping manusia, dan kicker light digunakan untuk mencahayai sisi subyek. Biasanya diposisikan low angle, dan diletakan dibelakang subyek mengarah ke sisinya. Pada Three Point Of Light digunakan key light sebagai lampu utama yang ditempatkan 45 derajat terhadap kamera, kemudia fiil light ditempatkan 45 derajat terhadap kamera pada sisi lain dan backlight ditempatkan dengan sebuah boom dan sedikit dibelakang atas kepala. Dengan mengubah kedudukan baic lighting dapat diperoleh efek dramatis tertentu. Efek ini juga dapat diperoleh dengan mengubah intensitas lampu. Apabila keylight sama terangnya dengan fill light, maka gambar yang diperoleh akan terkesan datar saja, namun apabila keylight lebih terang intensitasnya daripada full light maka akan diperoleh gambar yang lebih berdimensi Peletakan fill light jangan terlalu jauh dari sisi kamera, karena  justru akan menimbulkan bayangan yang tidak diinginkan yang akan kelihatan membingungkan  melawan bayangan dari key light. Menggunakan dua back light dapat menambah kilauan extra pada rambut. Dalam hal ini back light ditempatkan lebih tinggi dari kepala subjek. Back light setinggi  kamera yang ditembakkan  dari belakang ke arah kepala  subyek  akan membuat subyek menjadi gelap. Semakin terang subyek dihamburi cahaya, semakin kurang jelas latar belakang yang ditangkap oleh kamera. Apalagi jika latar belakangnya gelap.Untuk menampilkan detail dari latar belakang gunakan background light yang ditembakkan menyebrangi back ground.
Dalam pembuatan film dikenal ada dua jenis lampu yang mewakili waktu/saat pengambilan gambar, yang dibagi menjadi dua kategori: pagi /,siang   atau malam  .Lampu-lampu tersebut  dikenali sebagi berikut :
a. Lampu Tungsten . Yaitu lampu yang terbuat dari  kawat pijar (bohlam & pijar).Lampu ini mudah ditandai dengan melihat warnanya yang kemerahan. Lampu ini mempunyai suhu sekitar 3200 derajat Kelvin. Lampu ini biasa digunakan untuk adegan malam hari, di mana skin tone (warna kulit manusia) yang tersinari oleh lampu tungsten akan tetap  serasi, tidak menjadi kepucat-pucatan
b)Lampu day light. Yaitu lampu yang terlihat memancarkan warna putih seperti sinar matahari. Lampu ini mempunyai suhu sekitar 5600  derajat  Kelvin.
Oleh karena itu  dalam pembuatan film, selalu digunakan jenis lampu-lampu yang sesuai dengan saat-saat pengambilan gambar :pagi/siang   menggunakan lampu day light, atau senja/malam ,menggunakan lampu tungsten. Namun jika pengambilan gambar dilakukan pada siang hari untuk sebuah adegan yang aslinya adalah adegan yang terjadi pada waktu malam, maka  para penata lampu akan menggunakan teknik ”membungkus ruang” , yaitu menutupi seluruh ruangan atau arena dimana adegan berlangsung,dengan kain hitam ,agar tidak tertembus dengan cahaya matahari,kemudian di dalam ruangan terbungkus itu digunakan lampu  tungsten. Sebaliknya apabila pengambilan gambar dilakukan pada malam hari untuk membuat adegan yang aslinya adalah adegan siang, maka ruangan di mana adegan itu diambil akan ”diguyur” dengan lampu-lampu day light agar terang benderang. Lampu day light juga dapat dijadikan untuk lampu malam dengan menempatkan selembar  filter biru khusus, untuk membuat cahaya lampu day light menjadi seperti lampu tungsten. Dengan menambah filter tersebut, suhu lampu day light “diubah” menjadi seperti suhu lampu tungsten. Sebaliknya jika lampu tungsten hendak digunakan sebagai lampu day light, maka digunakan lembar filter berwarna orange yang khusus dibuat untuk tujuan menghasilkan cahaya seperti lampu day light. Pada penerapan tata cahaya di lapangan, tentunya tidak sesederhana  seperti dalam teori basic lighting. Pada umumnya seorang penata lampu  akan memasang lampu-lampu secara umum lebih dahulu untuk menerangi ruang di mana adegan berlangsung, baru kemudian  memberi lampu-lampu  untuk menambah unsur dramatik dari tokoh-tokoh ataupun ruangan.
(*)
Lighting atau tata lampu mempunyai dua fungsi. Yang pertama adalah fungsi ekspresif, yaitu menetapkan mood, atau memberi film sebuah penampilan tertentu, serta memberi kontribusi bagi cerita seperti karakter atau motivasi. Penataan lampu yang dapat menghasilkan makna melalui pembagian lampu yang tidak rata sehingga menghasilkan kontras. Fungsi yang kedua adalah realisme. Ini merupakan fungsi lighting yang paling banyak digunakan dan tidak kelihatan. Bila berhasil, tata lampu seperti ini akan menerangi karakter dan setting secara natural, sehingga penonton tidak menyadari kehadirannya, dan tidak merasakan lighting sebagai sebuah teknologi yang terpisah. Penggunaan lighting seperti ini disebut high-key lightingMenurut saya pencahayaan adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam produksi film. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak dapat menyaksikan apa-apa karena gelap tak bisa dilihat. Cahaya merupakan gelombang elektromagnetis yang diterima oleh indera penglihat yang kemudia diteruskan ke otak untu merespon, menanggapi rangsang cahaya tersebut. Sederhananya, tanpa cahaya maka benda tidak akan terlihat, dari sinilah film memerlukan cahata agar subyek dapat terlihat.







Daftar Pustaka


Ayawaila, G. R. (2008). Dokumenter: Dari Ide sampai Produksi. FFTV-IKJ Press.

Effendi, Heru. 2009. Mari Membuat Film. Jakarta: Erlangga.

Putri, Devin. 2015. Teknik Pencahayaan Film. Jakarta : Mizan